Bisakah MRT Jakarta Lebih Unggul dari Singapura?

Wendy Haryanto
JPI Executive Director

MRT Jakarta mulai beroperasi komersial per 1 April 2019. Moda transportasi massal ini merupakan sebuah lompatan signifikan dari sisi teknologi dan perkembangan angkutan publik perkotaan, menandakan Jakarta yang siap bertransformasi menjadi kota megapolitan yang lebih modern.

Bukan hal yang mudah membangun infrastruktur transportasi di tengah ibukota yang tak berhenti beraktivitas, ini sebuah upaya pemerintah yang patut diapresiasi oleh kita semua. Perjalanan panjang MRT yang diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada 24 Maret 2019, dimulai hampir lebih dari 30 tahun lalu.

Tepatnya mulai pada 1985, di mana gagasan membangun MRT pertama kali dicetuskan oleh BJ Habibie untuk antisipasi mengurangi kemacetan. Ide Habibie ini kemudian ditindaklanjuti oleh Gubernur DKI Jakarta saat itu, Surjadi Soedirja, dengan merilis desain dasar MRT Jakarta. Sayang, ide ini sempat terbengkalai belasan tahun hingga akhirnya dilakukan studi kelayakan MRT pada tahun 2000 dan PT Mass Rapid Transit Jakarta berdiri pada 2008, hingga akhirnya mulai masuk fase pembangunan fisik pada 2013.

Cerita sukses perjalanan panjang MRT tentunya diharapkan tak berhenti sepanjang Lebak Bulus-Thamrin saja. Bersamaan dengan peresmian Maret lalu, Presiden Jokowi juga meresmikan mulainya pembangunan tahap II yang masih melanjutkan rute Selatan Utara. Dari Bunderan HI, rute MRT dipepanjang 7 stasiun sampai ke Kota, Jakarta Utara.

Secara jangka panjang, Presiden Jokowi menyebut target MRT bisa terbentang sepanjang 231 km hingga 10 tahun mendatang. Membelah Jakarta dari Selatan ke Utara, dan Barat ke Timur. Rencana ini diperkirakan membutuhkan biaya hingga Rp 571 triliun, dan diharapkan bisa mengangkut hingga jutaan penumpang setiap harinya.

Lepas dari rencana besar tersebut, sewaktu masa ujicoba berlangsung dan menjajalnya, sebenarnya MRT Jakarta bisa dibilang sama canggihnya dengan Singapura. Mulai dari sisi teknologi, sistem operasi otomatis, dan keandalan jadwal. Dari sistem komunikasi misalnya, Direktur Utama MRT William Sabandar mengatakan Jakarta menggunakan CBTC atau Communication Based Train Control, sistem komunikasi yang diklaim tercanggih di dunia. Intinya dengan teknologi ini sistem MRT Jakarta bisa dikendalikan otomatis dan selalu terdeteksi secara akurat. Membuat kereta bisa beroperasi cepat, efisien, dan nyaman.

Belum lagi dari sisi sumber daya manusia, dari pemberitaan media berkali-kali direksi MRT menyebut diseleksi secara ketat untuk para masinis dan staf MRT. Para masinis ini kemudian juga dikirim latihan ke Singapura dan Jepang untuk mempelajari teknologi hingga budaya bekerjanya. Malah, untuk jarak tempuh jalan kaki dari pintu masuk stasiun hingga tempat menunggu kereta, Jakarta lebih nyaman karena tidak sejauh jarak tempuh stasiun-stasiun yang ada di negeri singa. Dengan sederet keunggulan ini, MRT Jakarta bisa sama hebat atau bahkan lebih ketimbang Singapura.

Belajar dari Singapura

Tetapi, segala kelebihan di atas masih tetap harus memperhatikan sektor pendukung lainnya agar tak sia-sia. Dari sisi sarana misalnya, masih terdapat beberapa yang perlu diperbaiki untuk kenyamanan penumpang. Seperti penyediaan tempat sampah terbatas, tanda dan arah jalan yang kurang jelas di stasiun, sampai anak tangga yang tinggi dan eskalator yang belum beroperasi maksimal. Bukan cuma itu, edukasi penumpang untuk antre, buang sampah, dan budaya lainnya yang bisa memelihara keberlangsungan MRT juga masih perlu ditingkatkan.

Dalam hal ini ada baiknya jika kita belajar dari Singapura yang telah mengoperasikan MRT sejak 1987. Di awal mengoperasikan, negeri ini juga memiliki banyak tantangan. Namun perlahan bisa diperbaiki, dan Indonesia pasti juga bisa. Misal, Singapura memberlakukan sistem denda tinggi bagi yang membuang sampah sembarangan. Dengan begitu, masyarakat pun mulai membiasakan diri untuk menjaga MRT. Selain sisi sarana yang disebutkan, terdapat juga sisi prasarana yang bisa ditiru dari Singapura.

Pada 2017, lembaga konsultan asal London, Credo, menyebut Singapura memiliki sistem transportasi paling efektif sedunia. Mampu mengangkut hingga 3 juta penumpang setiap harinya, studi menyebut salah satu kunci suksesnya adalah sistem transportasi yang terintegrasi di penjuru kota dan terkoneksi dengan gedung-gedung. Konektivitas dan integrasi memang tak bisa diabaikan untuk mengoptimalkan operasional MRT. Terutama dengan ide membentangkan MRT sepanjang 231 kilometer, kemudahan menuju stasiun MRT bagi warga dan koneksi ke gedung-gedung harus seiring sejalan.

Soal integrasi, MRT bekerjasama dengan TransJakarta merupakan langkah yang patut diapresiasi. Tinggal bagaimana warga diberi fasilitas atau halte yang nyaman sembari menunggu feeder untuk menyambung ke MRT. Misal dari halte TransJakarta bendungan menuju stasiun MRT pengguna bisa difasilitasi trotoar dan kanopi agar terhindar dari situasi cuaca yang serba tak pasti. Terutama untuk jalan-jalan di luar jalan utama Thamrin-Sudirman. Untuk masuk fase II, fasilitas ini bisa mulai diperhatikan pemerintah.

Sementara untuk konektivitas, kolaborasi antara PT MRTJ, pemerintah dan sektor swasta atau pengembang harus ditekankan. Saat ini, regulasi terkait konektivitas masih belum rinci. Kerjasama ketiganya sangat penting dalam pembuatan dan implementasi regulasi yang menguntungkan semua pihak demi peningkatan jumlah penumpang MRT. Saat ini pembicaraan kedua belah pihak masih berlangsung intens untuk mewujudkan MRT yang terintegritas dan terkoneksi, harapannya akan ada hasil dalam waktu dekat yang bisa menguntungkan semua pihak.

Keberadaan MRT sebenarnya memiliki dampak positif untuk gedung sekitar, terutama yang memiliki pusat pembelanjaan. Sebab, penumpang MRT bisa menambah tingkat kunjungan ke gedung mereka dan menjadi potensi yang sangat baik untuk mendorong pertumbuhan bisnis. Terutama bisnis ritel.

Begitu pula dari sisi pemerintah, dengan terkoneksi ke gedung sekitar tentunya bisa memancing para pekerja untuk ramai-ramai hijrah ke angkutan publik. Sebab, lebih praktis-cepat-dan nyaman bagi mereka.

Pembangunan masih berjalan, koneksi yang terintegritas bukanlah mimpi yang sulit diwujudkan. Kedua pihak tentunya sudah memiliki niatan untuk membuat moda transportasi ini lebih terpadu. Seperti namanya, moda raya terpadu. Untuk itu, diskusi harus terus dilanjutkan karena pengembangan infrastruktur transportasi bukan cuma tanggung jawab pemerintah. Tapi kita semua, demi Jakarta yang lebih maju dan berbudaya.

Jika semua sarana dan prasarana tersebut dilengkapi dan ditingkatkan oleh pemerintah. Buat saya, bukan tidak mungkin MRT Jakarta akan lebih unggul dibanding Singapura.


 



News

Blogs