5 Manfaat Bertransformasi Jadi Compact City


Tentu kita sering mendengar Jakarta dijuluki kota megapolitan. Julukan ini identik dengan kesibukan perkotaan yang diwarnai kemacetan, dan hal-hal lain yang menguras keuangan,tenaga, bahkan berdampak pada ranah kehidupan sosial kita. Kota ini memang membuat penduduknya sibuk dan lelah. Lalu, bila sudah seperti ini, apa yang bisa dilakukan? Bagaimana agar Jakarta bebas dari julukan dan segala beban-bebannya? Jawabannya adalah bertransformasi menjadi compact city atau kota padu.

Apa itu compact city?

Compact city adalah kota yang tak menafikan kepadatannya. Namun, tetap memberi kenyamanan untuk dihuni warganya. Compact city tetap menyediakan ruang yang cukup untuk bisa bersosialisasi, bermain, dan menuju ke tempat kerja dengan jarak tempuh singkat bahkan nyaman dengan berjalan kaki.

Compact city intinya berprinsip untuk menata kota sedemikian rupa agar warganya dapat melakukan semua kegiatan dan menjangkau kebutuhan sehari-hari hanya dalam jarak beberapa langkah saja. Nah, berikut adalah 5 keuntungan yang bisa didapat dari compact city.

Mengurangi Penggunaan Kendaraan dan Polusi Udara

Menjadi warga kota besar membuat kita lebih sering menghirup asap daripada oksigen, dan kita semua tahu ini mematikan.

Data WHO menyebut setidaknya 7 juta bayi lahir prematur setiap tahun akibat polusi udara. Bank Dunia bahkan menghitung ongkos kesehatan yang dikuras warga akibat polusi secara global bisa mencapai US$ 225 miliar atau setara Rp 3,127 triliun dengan kurs saat ini! Merujuk data Dinas Transportasi dan Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, setiap hari setidaknya 15 juta motor dan 5,2 juta mobil lalu lalang di Jakarta dan menyumbang 75% polusi udara ibu kota. Konsep compact city hadir untuk menanggapi isu ini dan mendorong warga untuk berpergian dengan berjalan kaki dan menggunakan transportasi umum. Tentunya, didukung dengan kemudahan akses dan sarana infrastruktur yang nyaman untuk penggunanya.

Saat semua hal tersebut dipenuhi, warga bakal beralih dari kendaraan pribadi dan tentu polusi akan berkurang di langit kota.

Mendorong Gaya Hidup Sehat dan Aktif

Kondisi jalanan yang tidak nyaman acapkali melahirkan ketergantungan warga untuk menggunakan kendaraan bermotor. Hal ini berbahaya tak hanya buat udara tapi juga tubuh, karena imbasnya kita pun semakin malas bergerak.

Studi Universitas Stanford menyebut bahkan rata-rata orang memilih menggunakan mobil atau motor untuk ke tempat yang berjarak kurang dari 200 meter. Mirisnya lagi, Indonesia berada di peringkat terakhir dari 46 negara soal jumlah rata-rata langkah yang ditempuh penduduk setiap harinya.

Harga dari budaya malas gerak ini mahal, mengakibatkan masalah kesehatan seperti hipertensi dan obesitas. Hipertensi bisa berujung pada serangan stroke, yang menjadi penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Di balik tubuh yang obesitas, tentu ada setumpuk risiko kesehatan yang siap menerjang. Cukup dengan banyak berjalan, semua resiko itu sebenarnya bisa dikurangi.

Interaksi Sosial dan Kolaborasi Lebih Tinggi

Mana yang lebih nyaman, berangkat kerja menempuh kemacetan ditemani bisingnya suara klakson atau berjalan kaki pagi sambil mengobrol santai menuju ke kantor?

Daripada di dalam mobil yang serba tertutup, atau motor yang selalu ingin cepat, jalan kaki memungkinkan kita bertemu dengan kenalan lama atau bahkan baru ketika menuju tujuan yang sama. Komunitas yang mendorong penduduknya berjalan kaki, akan menciptakan warga yang mudah berbaur dengan berbagai latar belakang.

Tidak percaya? Studi seorang peneliti, yakni Donald Appleyard, membuktikan bahwa orang yang menempuh perjalanan ringan bisa dapat rata-rata 3 teman dibanding yang terjebak kemacetan dengan rata-rata hanya 0.9 teman. Contoh lain adalah Irlandia, di mana studi membuktikan bahwa orang yang tinggal di lingkungan ramah pejalan kaki memiliki tingkat bersosialisasi hingga 80% dibanding orang yang hidup di area yang ketergantungan kendaraan. 

Sebab, mengutip Robert Putnam, secara alamiah manusia memang makhluk sosial. Namun, ia mengatakan kehidupan perkotaan telah mengikis manusia dari interaksi sesamanya. Dengan compact city, sifat alamiah ini bisa tumbuh kembali sebab tak ada lagi rumah tapak berpagar tinggi dan ketergantungan dengan kendaraan yang bisa membuat manusia miskin interaksi. 

Trotoar Menarik dan Bonus Wisata Murah!

Salah satu unsur penting compact city adalah menghadirkan trotoar atau area berjalan yang bukan hanya nyaman tapi menarik perhatian, tujuannya tentu agar warga lebih banyak berjalan kaki. 

Seperti yang dilakukan oleh New York, Copenhagen, dan Paris. Trotoar mereka bukan hanya tempat asal lewat tetapi juga tempat singgah para turis. Bahkan, trotoar ikonik seperti Champ Elysees jadi tujuan utama. Trotoar yang sangat lebar memungkinkan kota menghiasnya, bisa dengan taman, kios berdekorasi cantik, dan pastinya ruang yang cukup untuk warga berinteraksi satu sama lain. 

Area tersebut menjadi titik kumpul warga untuk sekedar bercengkerama, ngopi cantik, atau bahkan sambil bekerja. Ketimbang berada di rumah atau kendaraan mereka, warga lebih memilih keluar dan ke jalan untuk mengisi aktivitas sosial mereka. 

Bukan tidak mungkin, jika Jakarta disulap menjadi kota yang lebih ramah pejalan kaki dengan kenyamanan infrastruktur dan aksesoris pelengkapnya, bisa mendatangkan wisatawan ke kota ini. Selama ini, Jakarta hanya bertindak sebagai kota transit sebelum wisatawan beranjak ke destinasi liburan lainnya seperti Bali, Jawa Timur, dan Jawa Barat yang menjadi tiga lokasi wisata paling diminati di Indonesia (berdasarkan BPS tahun 2018). Bisa jadi dengan hadirnya trotoar yang modern dan atraktif, turis akan singgah lebih lama di ibu kota untuk menikmati suasananya. Rasanya bukan hal mubazir untuk investasi dan mulai menerapkannya, ya? 

Membuka Kesempatan Lebih Luas dengan Mobilitas Sosial

Compact city diyakini bisa menghadirkan mobilitas yang bisa memberdayakan masyarakat baik secara ekonomi maupun sosial. 

Penataan kota yang tak mempertimbangkan mobilitas akan menghadirkan ketimpangan ekonomi yang lebih lebar. Imbasnya bisa berdampak lebih jauh, seperti akses kepada pendidikan yang hanya akan dinikmati oleh golongan tertentu saja. 

Mengutip penelitian RAND, lembaga penelitian nonprofit dari Amerika, golongan keluarga kaya Indonesia yang hanya 20% dari total penduduk memiliki kesempatan menguliahkan anak mereka ke universitas lebih tinggi, yakni mencapai 49%. Sementara yang lahir di kelompok miskin, hanya punya 7% kesempatan mengakses perguruan tinggi. 

Untuk itulah, investasi menciptakan lingkungan kota yang padu seperti compact city sangat substansial. Penelitian dari American Psychological Association (2008) menunjukkan akses transportasi publik yang baik dan penyediaan sarana pejalan kaki yang memadai bisa membawa dampak nyata dan berkesinambungan untuk mengentaskan kemiskinan. 

Contoh paling utama adalah dengan akses transportasi publik dan jalan yang ramah pengguna, masyarakat kurang mampu akan semakin mudah mendapat akses ke tempat kerja. Sebab, mereka bisa menuju kota dengan mudah dan lebih cepat. Tidak harus mengeluarkan biaya tambahan lainnya, seperti sewa tempat atau berkali-kali naik kendaraan dan bermacet-macetan sehingga membuat mereka lelah, stress, dan tidak optimal dalam bekerja. 

Apalagi, menurut The Socioecological Psychology of Upward Social Mobility adanya penyediaan jalanan yang ramah dan nyaman dapat membangun rasa memiliki terhadap kota yang begitu besar pada warganya dan membuat mereka lebih termotivasi untuk maju. 

Jadi…

Impian untuk memiliki rumah tapak memang sudah susah diwujudkan di Jakarta yang miskin lahan. Namun tenang, bukan berarti impian hidup yang nyaman dan berkualitas sudah luput dari jangkauan. 

Bukti sudah ada, pengalaman sudah teruji bahwa compact city adalah jawaban untuk kota yang lebih layak huni dan manusiawi. Terus bersuara dan berusaha agar kita bisa menciptakan Jakarta yang padu dan menjadi compact city. Silakan kunjungi Instagram kami @jakartapropertyinstitute untuk informasi lebih banyak tentang perkembangan kota layak huni dan kirim surel ke info@jpi.or.id untuk ide dan gagasan.  

Warga Jakarta sebenarnya tidak bisa sepenuhnya disalahkan jika enggan berjalan kaki karena sarana yang ada memang kurang nyaman. Oleh karena itu, sarana tetap harus diperbaiki dan ditingkatkan karena budaya berjalan kaki tak cuma lahir dari keinginan warga tetapi juga harus didukung pemerintah. Tata kota dan regulasi yang diciptakan harus mampu mendorong kehidupan yang lebih baik dan sehat bagi warganya.


News

Blogs