Tak Ramah Pejalan Kaki, Jakarta Semakin Merugi

Rima Aisha
Urban Enthusiast

Di Jakarta, pejalan kaki adalah anak tiri. Mereka dibuat tak berdaya dengan banyaknya kendaraan dan trotoar yang tak nyaman. Padahal, kemeriahan kota ini banyak terletak di sudut-sudut yang hanya bisa dijangkau dengan berjalan kaki. Desain kota yang mengetengahkan kendaraan pribadi juga membuat kota ini merugi secara ekonomi.

Melalui pengamatan dua kawasan di bilangan Blok M dan Sabang, tulisan ini akan membahas mengenai pentingnya ruang kota yang nyaman dan manusiawi. Berbicara tentangnya, akan selalu ada pertanyaan besar yang menghantui: mungkinkah Jakarta menjadi kota yang berpihak pada pejalan kaki?

Sabang vs. M Bloc Space

Daerah Sabang atau tepatnya di sepanjang Jalan Haji Agus Salim, Kebon Sirih, Jakarta Pusat, merupakan salah satu destinasi menarik untuk wisata kuliner. Di sini terdapat berbagai pilihan restoran dan kedai kopi. Bahkan, di jalan ini juga bisa ditemukan kampung kuliner, yaitu sentra puluhan pedagang kaki lima yang dilokalisasi untuk menjajakan berbagai menu makanan.

Banyaknya pilihan yang ada di daerah Sabang membuat berjalan di sekitarnya menjadi pengalaman yang menarik. Dengan lebar muka toko yang rata-rata hanya sekitar 3-6 meter, selalu ada hal baru yang dapat dinikmati mata setiap beberapa langkah menyusuri jalan. Sayangnya, daerah ini tidak ramah pejalan kaki. Trotoar banyak digerus oleh mobil dan motor yang parkir serta tenda kaki lima yang berjualan di pinggir jalan.

Sebetulnya, lokasi ini hanya berjarak 270 meter dari Halte Transjakarta Bank Indonesia dan 330 meter dari Halte Transjakarta Sarinah. Namun, trotoar yang kurang nyaman membuat banyak pengunjung memilih datang untuk menggunakan kendaraan pribadi. Selain itu, ramainya bahu jalan turut membuat arus kendaraan menjadi rentan tersendat. Toko-toko menjadi terhalang oleh kendaraan yang parkir sehingga keberadaannya menjadi kurang terlihat. Keragaman yang tersedia di sepanjang jalan pun jadi sia-sia.

Sementara itu, di bilangan Blok M, Jakarta Selatan, muncul sebuah destinasi baru bernama M Bloc Space. Tempat yang dikelola oleh PT. Ruang Riang Milenial ini merupakan ruang kreatif yang diperuntukkan bagi musisi dan komunitas lokal lainnya. M Bloc Space menawarkan ruang pertunjukan musik, amfiteater, dan toko-toko yang menjual berbagai pilihan makanan, kopi, dan hobi.

Yang unik dari M Bloc Space, tempat ini tak menyediakan lahan parkir. Jika ingin datang dengan menggunakan kendaraan, tersedia jasa valet sebesar Rp 50.000 di luar biaya parkir. Pengunjung didukung untuk menggunakan mode transportasi umum, mengingat lokasi M Bloc Space yang berada di antara dua stasiun MRT, ASEAN dan Blok M, serta berjarak hanya 600 meter dari Halte Transjakarta Blok M.

Selain itu, bagian depan bangunan retail di kawasan M Bloc Space juga dimanfaatkan sebagai tempat instalasi toko serta tempat pengunjung duduk-duduk dan berfoto ria. Aktivasi ruang depan bangunan ini menjadikan pengalaman berjalan di sini menjadi menarik. Suasana pun jadi hidup.

Memang tidak setara jika kita semerta-merta membandingkan kawasan Sabang dengan M Bloc Space. Sebab, kawasan Sabang adalah daerah terbuka yang dikelola pemerintah, sedangkan M Bloc Space merupakan ruang publik yang dikelola oleh swasta. Tapi, kita bisa melihat potensi dan pembelajaran yang ada pada keduanya.

Sebagai sebuah kawasan terkontrol, M Bloc Space berhasil membuka diri bagi kepentingan pejalan kaki. Dengan mempromosikan kemudahan menggunakan transportasi umum, area yang tadinya digunakan sebagai lahan parkir justru dimanfaatkan jadi ruang terbuka. Pengunjung jadi lebih leluasa berjalan kaki dan berkeliling untuk melihat-lihat di sekitar toko.

Bayangkan bila langkah berani semacam ini ditunaikan pada kawasan yang dikelola oleh pemerintah sebagai pembuat peraturan utama, misalnya seperti pada daerah Sabang. Jika penyediaan fasilitas untuk kendaraan pribadi dibatasi dengan tegas, mau tak mau orang akan beralih pada transportasi umum dan berjalan kaki. Tentunya hal ini bukan tanpa keuntungan. Kawasan semakin tertib, mudah dijangkau, dan toko-toko pun akan semakin menarik pembeli.

Kuasa pemerintah dan swasta

Aspek kenyamanan bagi pejalan kaki hendaknya makin dipahami oleh semua pemangku kepentingan tingkat kota. Sebab, ada hubungan paralel antara daerah ramah pejalan kaki dan pesepeda dengan nilai jual properti, munculnya usaha baru, dan peningkatan ekonomi lokal.

Tak hanya dari sisi ekonomi, tentu masih banyak aspek yang turut diuntungkan dengan adanya kawasan ramah pejalan kaki, seperti aspek kesehatan dan kelingkungan. Prinsip ini penting untuk dikembangkan di seluruh penjuru kota. Dengan banyaknya tempat yang mengaplikasikan konsep ramah pejalan kaki, makin lama seluruh kota akan makin maju dalam memerdekakan pejalan. Warga pun lebih sehat dan perekonomian akan tumbuh lebih baik. Maka, perlu adanya langkah berani yang diambil serta kolaborasi yang baik antara pemerintah dan swasta untuk menciptakan kota yang lebih meriah, menarik, dan nyaman bagi pejalan kaki.



News Releases

Blog