Jakarta yang lebih padat dan dibangun keatas, tidak hanya berpotensi meningkatkan aktivitas ekonomi, tetapi secara signifikan juga dapat meningkatkan tingkat layak huni (livability) kota.

Indikator kepadatan dan kontributor kelayakan hidup yang kerap dipakai adalah tingkat kenyamanan berjalan kaki, hal yang Jakarta butuh untuk ditingkatkan.  

Hanya 7 persen jalan di Jakarta yang dilengkapi dengan trotoar yang layak, ini adalah indikasi terjadinya rebakan kota (urban sprawl) , dan rancangan kota yang mengutamakan penggunaan kendaraan . Ini sekaligus menjelaskan mengapa Indonesia berada di peringkat terakhir dari negara-negara yang penduduknya sering berjalan kaki.

Jauhnya perjalanan dan mahalnya biaya transportasi sebagai akibat dari rebakan kota sangat merugikan masyarakat berpenghasilan rendah. Budaya berkendara Jakarta berkontribusi pada masalah kesehatan yang berhubungan dengan polusi udara, gaya hidup yang pasif, dan kurangnya interaksi sosial yang biasanya muncul saat berjalan kaki.

Jakarta yang lebih padat dan vertikal membuat pemakaian lahan jadi efisien. Dengan perencanaan dan perancangan yang layak, Jakarta dapat mengakomodasi lingkungan bagi masyarakat dalam beragam pendapatan. Hal ini merupakan kunci untuk menciptakan suasana yang lebih hidup, dan menyisakan ruang untuk lahan hijau yang saat ini hanya mencangkup 10 persen, masih jauh dari target 30 persen dari lahan Jakarta.

Untuk itu, Jakarta Property Institute telah meneliti dan mengusulkan skema pembangunan ulang permukiman informal kepada pemerintah. Skema ini memungkinkan para penduduk yang sudah ada dapat mempertahankan kehidupan dengan memungkikan mereka untuk tinggal di area yang sama dan memiliki unit apartemen yang bila tidak sama, lebih besar dari lahan mereka sebelumnya. Lingkungan ini juga akan menyediakan fasilitas publik dan ruang hijau yang sering tidak tersedia di permukiman informal.

Jakarta property institute juga akan berpartisipasi dalam mendukung interkonektivitas dari pejalan kaki.