Mungkinkah kita tinggal di tengah Jakarta? | frequently asked questions

Linda Hairani
Assistant Project Manager

Tinggal di tengah kota menawarkan kemudahan yang salah satunya berupa efisiensi waktu. Dukungan transportasi umum di kota mempersingkat waktu tempuh yang diperlukan untuk mencapai tempat tujuan. Sayangnya, tinggal di kota menjadi semakin sulit terwujud karena keterbatasan lahan dan mahalnya harga hunian. Meski begitu, benarkah tinggal di tengah kota kini sepenuhnya hanya menjadi sekadar impian?

Mungkinkah kita tinggal di tengah Jakarta?

Sangat mungkin. Beberapa cara bisa dilakukan untuk membuat lebih banyak masyarakat tinggal di tengah kota. Salah satunya, memperbanyak hunian vertikal dengan menambah ketinggian bangunan.

Tapi harga apartemen di Jakarta itu sangat mahal. Apakah masih mungkin untuk tinggal di tengah kota?

Mungkin. Mahalnya harga apartemen di Jakarta disebabkan karena kurangnya pasokan sedangkan permintaannya tinggi. Semakin banyak suplai hunian, semakin terjangkau harganya.

Harga lahan yang mahal, lambat dan rumitnya pengurusan perizinan pembangunan, peraturan tata ruang yang membatasi ketinggian bangunan menjadi faktor yang membuat mahalnya harga hunian.

Sederhananya, semakin terbatas lahan yang tersedia, maka semakin mahal harganya. Semakin lama proses pembangunan hunian vertikal, semakin mahal harganya. Semakin rendah koefisien lantai bangunan, semakin sedikit hunian yang bisa terbangun.

Bagaimana cara mewujudkan hunian terjangkau di tengah Jakarta?

Lantaran hampir tidak ada lagi lahan kosong, kreativitas dan inovasi pemerintah untuk mengoptimalkan pemanfaatan aset daerah menjadi kuncinya. Lahan pemerintah atau BUMD seperti terminal dan pasar biasanya memiliki koefisien lantai bangunan (KLB) rendah. Kebijakan pemerintah untuk mengizinkan peningkatan KLB di terminal dan pasar membuat area tersebut berpotensi menjadi lokasi pembangunan hunian vertikal.

Setelah KLB meningkat, pendanaan konstruksi hunian vertikal bisa berasal dari kewajiban pengembang. Selama ini, pengembang dikenai kewajiban pembangunan rumah susun murah atas aktivitas pengembangan yang mereka lakukan. Daripada menunggu pembebasan lahan dari pemerintah yang memakan waktu, kewajiban yang diubah menjadi dana pembangunan hunian vertikal di atas lahan terminal dan pasar bisa menjadi salah satu opsinya.

Mengapa harus tinggal di hunian vertikal di tengah kota? Apa bedanya dengan tinggal di pinggir kota?

Tentu tidak harus, tapi tinggal di tengah kota menawarkan efisiensi. Tinggal di tengah kota membuat hemat biaya dan waktu perjalanan.

Alasannya, tengah kota adalah tempat masyarakat melakukan kegiatan sehari-harinya seperti bekerja, jalan-jalan, sekolah, dan lain sebagainya. Selain itu, tinggal di tengah kota berarti memiliki lebih banyak pilihan transportasi umum. Sebut aja, ada MRT, Transjakarta, kereta komuter, dan LRT. Jika jarak lokasi tujuannya dekat, berjalan kaki bahkan bisa jadi opsi juga. Tak cuma ikut andil mengurangi kemacetan, berjalan kaki juga bisa mengurangi tingkat stres.

Sebaliknya, tinggal di pinggir kota berarti menghilangkan penghematan biaya dan waktu. Sebab, jarak tempuh otomatis bertambah. Tidak menutup kemungkinan, masyarakat yang tinggal di pinggir kota juga harus menggunakan dua moda transportasi untuk mencapai tujuannya di Jakarta.

Tinggal di tengah kota berarti menambah kepadatan penduduknya? Bukankah Jakarta sudah padat?

Kepadatan itu relatif. Jakarta itu padat pada siang hari, tapi lengang pada malam harinya. Sebab, banyak orang bekerja di Jakarta, tapi bertempat tinggal di luar Jakarta. Jakarta itu padat secara horizontal, bukan vertikal. Jakarta terlihat padat karena tidak tertata yang benar.

Jika hunian vertikalnya sudah tersedia, apakah kita harus menyewa atau membelinya?

Pilihan ini menyesuaikan kebutuhan ruang tiap orang. Faktor-faktor yang mempengaruhinya adalah mobilitas seseorang, jenis pekerjaan, dan lain sebagainya.


News releases

Blog