Kepadatan atau overcrowding, mana yang harus dihindari?


Covid-19 mengubah pola kehidupan. Kehidupan bersosial dalam bentuk berkumpul dan bertatap muka langsung harus ditinggalkan karena virus ini menular lewat cairan mulut ketika berbicara. Kehidupan perkotaan yang tadinya ramai jadi sepi. Lantas bagaimana dengan kelangsungan kota yang mengandalkan kepadatan untuk perkembangannya? Haruskah juga dihindari?

1. Kenapa wilayah padat tidak lantas menjadi rentan terjangkit Covid-19?

Banyak kota dengan kepadatan tinggi seperti Tokyo, Hong Kong, Taipei dan Singapura justru jumlah kasusnya lebih rendah dibandingkan kota lain. Kesamaan kota-kota ini adalah kepadatan yang tertata dan fasilitas kesehatan yang mumpuni. Salah satunya dengan tingkat kemampuan tracing yang tinggi sehingga kasus bisa dilokalisasi dan tidak lebih menyebar.

2. Kalau bukan kepadatan, lantas apa yang membuat pandemi lebih rentan di kota besar?

Dari segi kesehatan, pertahanan pertama dari penyebaran virus adalah tracing dan karantina yang telah terdampak. Namun, dari perspektif ruang, masalah utamanya adalah overcrowding area (area rapat/sumpek) dengan kemiskinan terkosentrasi yang tinggi (concentrated poverty). 

Kepadatan berhubungan dengan jumlah hunian yang berada di total luas area lantai. Sedangkan overcrowding itu kondisi saat terlalu banyak orang yang berada dalam hunian tersebut. Kedua hal ini sering disamaratakan oleh para pegiat urban. (disarikan dari pernyataan Jane Jacobs tentang kepadatan lahan dan keramaian penduduk)

Kebanyakan wilayah overcrowding ini juga tempat concentrated poverty berada. Di sana, kebanyakan penduduknya berpenghasilan rendah dengan beban hunian dalam satu rumah (overcrowding houses). Sehingga, jarak fisik sulit diterapkan, tidak adanya ruang publik atau ruang terbuka hijau dan sanitasi sering tidak terjaga.

Salah satu contoh pandemi lebih rentan di wilayah overcrowding adalah kasus Covid-19 di Singapura. Lokasinya berada di asrama para pekerja migran yang dihuni lebih dari 10 orang dalam satu kamar.

3. Bagaimana cara agar pandemi di wilayah-wilayah dengan concentrated poverty tinggi bisa ditekan?

Untuk kasus Covid-19, tracing dan self contained adalah solusi paling baik. Namun, untuk masalah kesehatan dan pandemi secara umum, ada pendekatan-pendekatan tata kota yang bisa dilakukan. 

Ada beberapa rekayasa spasial dan sosial yang bisa dilakukan agar tingkat kesehatan masyarakat meningkat. Salah satunya, meningkatkan kepadatan bangunan dengan bangunan vertikal sehingga overcrowded houses bisa dihindari. 

Selain itu, menerapkan hunian dengan konsep penghasilan campuran (mixed income) juga solusi yang bisa diambil. Bila masyarakat berpenghasilan rendah tinggal di lingkungan yang mixed income, kualitas hidup mereka juga ikut meningkat. Masyarakat yang tinggal di lingkungan yang mixed income juga punya daya tawar lebih tinggi ketika menuntut fasilitas kesehatan dan perbaikan sanitasi lingkungan.


Publications

Blog/opinion

News releases