Menata Senopati, paduan kawasan cagar budaya dan pusat kuliner semarak


Area Jalan Senopati di Kebayoran Baru semula merupakan kawasan permukiman. Beberapa tahun belakangan, banyak restoran bermunculan di area tersebut juga termasuk kegiatan komersial lainnya. Lokasinya yang dekat dengan area perkantoran dan perumahan juga membuat kawasan sebagai tempat nongkrong populer.

Perubahan fungsi kawasan tersebut juga menimbulkan kemacetan: badan jalan yang digunakan untuk parkir; trotoar yang terhalangi kendaraan; kecepatan kendaraan yang berkurang karena kendaraan yang keluar atau masuk ke parkir di persil bangunan. Penataan yang tidak segera dilakukan Pemerintah DKI Jakarta berpotensi membuat kemacetan bertambah parah.

Karakteristik Senopati & prinsip yang perlu diperhatikan

Menurut peraturan, area Jalan Senopati termasuk kawasan pelestarian cagar budaya. Jalan Senopati juga merupakan batas dari zona inti pemugaran yang memberlakukan pembatasan ketat terkait pengembangan bangunan vertikal dan zona penyangga yang berfungsi meningkatkan area resapan di kawasan tersebut.

Lantaran statusnya yang merupakan kawasan pelestarian cagar budaya, maka ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan:

  • Mempertahankan lingkungan hunian agar penghuni tetap nyaman
  • Membatasi kegiatan non-hunian dan mengarahkan jenis kegiatan pada koridor yang mengalami tekanan pembangunan sehingga tidak mengintrusi kawasan sekitarnya
  • Mendorong pelaksanaan kegiatan yang akan berdampak positif dan mendukung penguatan karakter kawasan

Penataan untuk menggali potensi Senopati

Jalan Senopati berpotensi menjadi pusat kuliner yang lebih besar lagi sekaligus menjadi area yang lebih nyaman bagi pejalan kaki. Caranya: 

  • Memperluas jalur pedestrian

Area Senopati—yang saat ini didominasi oleh fungsi campuran, permukiman, perdagangan, dan jasa—menungkinkan adanya peningkatan aktivitas pejalan kaki. Pelebaran pedestrian yang disertai dengan penetapan kesamaan ketinggian ruang jalan dan jalur pedestrian menjamin kontinuitas dan kenyamanan pejalan kaki.

  • Mengatur parkir

Kenyamanan pejalan kaki juga meningkat dengan tidak adanya sistem parkir on street. Tempat parkir di Jalan Senopati bisa berada di satu area khusus yang jelas sirkulasinya serta akses masuk dan keluarnya mudah diakses. Salah satu area parkir potensial berasal dari parkir gedung-gedung di kawasan SCBD Sudirman. 

Area parkir yang kosong pada malam hari bisa dimanfaatkan pengunjung Jalan Senopati. Melalui skema kerja sama tertentu, pengelola kawasan bisa menyediakan bis shuttle untuk berkeliling area Senopati sampai kembali ke tempat parkir.

  • Penyediaan moda transportasi umum

Panjang Jalan Senopati yang hanya sekitar 1,3 kilometer berpotensi menghasilkan pengalaman berjalan kaki yang menyenangkan. Pedestrian yang lebar dan tertata baik ditambah dengan restoran dengan konsep active frontage (Lantai dasar muka bangunan tanpa pagar dan berbatasan dengan jalur pejalan kaki) di sisi kanan dan kiri jalan merupakan pemicu pengalaman berjalan kaki yang menarik. Pengalaman tersebut bisa dicapai jika ada akses ke moda transportasi umum di kedua ujung Jalan Senopati.

Saat ini, belum ada akses transportasi publik di Jalan Senopati. Kondisi ini menyebabkan pengunjung yang datang hampir selalu berkendaraan pribadi dan berujung pada timbulnya kemacetan. Adanya transportasi publik di Senopati bisa mengurangi kemacetan.


Publications

Blog/opinion

News releases