Koefisien lantai bangunan (klb), faktor penting untuk mengatasi darurat hunian di jakarta

21 April 2022

Kondisi darurat hunian terjangkau di Jakarta sudah berlangsung selama beberapa tahun. Sudah sepantasnya masyarakat, terutama yang terdampak langsung, mencari tahu akar permasalahannya. Mari mengupas kurangnya ketersediaan hunian layak dan terjangkau di ibu kota, serta solusi yang dapat ditawarkan oleh pemerintah.

Di antara faktor-faktor yang mungkin pernah Anda dengar sehubungan dengan masalah kekurangan suplai hunian layak dan terjangkau di Jakarta, Koefisien Lantai Bangunan atau KLB mungkin merupakan salah satu yang sering muncul.

Lalu, apa yang dimaksud dengan Koefisien Lantai Bangunan (KLB)? Mengapa KLB berpengaruh terhadap penyediaan hunian di Jakarta?

Koefisien Lantai Bangunan adalah angka penentu tinggi bangunan yang ditetapkan oleh pemerintah. Dengan kata lain, Koefisien Lantai Bangunan merupakan pedoman yang membatasi jumlah lantai yang diperbolehkan untuk dibangun pada suatu bangunan di kawasan masing-masing.

Koefisien Lantai Bangunan juga dapat didefinisikan sebagai persentase hasil perbandingan antara total luas seluruh lantai bangunan dengan luas lahan yang tersedia.

Nah, untuk mengetahui batas jumlah lantai yang dapat dibangun pada suatu bangunan, Anda perlu mengetahui Koefisien Dasar Bangunan atau KDB terlebih dahulu. Koefisien Dasar Bangunan ini merupakan persentase dari lahan yang diperbolehkan untuk dibangun, yang berbeda-beda di setiap wilayah.

Dengan mengetahui Koefisien Dasar Bangunan (KDB) di lokasi lahan, Anda dapat menghitung luas lahan yang dapat dibangun. Kemudian, untuk menghitung luas lantai yang dapat dibangun, Anda cukup mengalikan luas lahan dengan angka Koefisien Lantai Bangunan (KLB) yang berlaku di kawasan tersebut.

Misalnya, jika Anda memiliki lahan dengan luas 1000 m2 dengan Koefisien Dasar Bangunan (KDB) 50% dan Koefisien Lantai Bangunan (KLB) 4, maka luas lahan yang dapat dibangun adalah 1000 m2 x 50% = 500 m2. .Sedangkan, total luas lantai yang boleh didirikan adalah 4 x 1000 m2 = 4000 m2.

Dengan mengetahui luas lantai dan luas lahan yang dapat dibangun sesuai Koefisien Lantai Bangunan dan Koefisien Dasar Bangunan di kawasan tersebut, maka jumlah lantai yang diperbolehkan untuk dibangun adalah  4000 m2   : 500 m2    = 8 LANTAI.

Seperti yang telah disinggung di atas, angka Koefisien Lantai Bangunan untuk setiap kawasan tidak sama. Hal ini tentunya berhubungan dengan rencana tata ruang masing-masing kawasan. Koefisien Lantai Bangunan yang lebih tinggi ditemukan di wilayah yang perlu dikembangkan seperti halnya daerah perkantoran dan kawasan transit oriented development, atau kawasan TOD di Jakarta.

Nah, untuk mengetahui Koefisien Dasar Bangunan (KDB) dan Koefisien Lantai Bangunan (KLB) di Jakarta, masyarakat dan pelaku konstruksi dapat mengakses informasi pada situs jakartasatu.jakarta.go.id.

Kembali kepada masalah darurat hunian di Jakarta, peningkatan Koefisien Lantai Bangunan merupakan faktor penentu untuk merealisasikan vertical growth di Jakarta yang dapat menyediakan rumah susun dengan harga terjangkau bagi masyarakat.

Selain dapat memanfaatkan lahan dengan lebih optimal dari segi ruang, peningkatan intensitas penggunaan lahan dengan cara meningkatkan Koefisien Lantai Bangunan di tengah Jakarta secara langsung juga membuat harga lahan yang tinggi menjadi tertanggung oleh lebih banyak unit rumah susun. Hal ini memungkinkan untuk menyediakan hunian dengan harga terjangkau di lokasi strategis di Jakarta. 

Lokasi strategis yang dimaksud memang bukan lantas bisa membangun rumah susun murah di kawasan Sudirman-Thamrin. Sebab, Nilai Jual Objek Pajak di kawasan paling high profile di Jakarta itu telanjur setinggi langit. Meski begitu, masih banyak lahan potensial lain di Jakarta yang bisa menjadi lokasi pembangunan rumah murah. Peningkatan Koefisien Lantai Bangunan berarti pemanfaatan ruang yang lebih optimal dan peningkatan ketersediaan rumah susun layak dan terjangkau.

Nah, itulah alasan mengapa Anda sering mendengar istilah Koefisien Lantai Bangunan sehubungan dengan persoalan kekurangan hunian, kekurangan lahan, dan juga masalah permukiman kumuh di Jakarta.

Semoga Koefisien Lantai Bangunan lekas ditingkatkan demi terwujudnya Jakarta yang lebih baik!


Publications

Blog/opinion

News releases