Pengertian Transit Oriented Development (TOD) dan Penerapannya di Jakarta

29 June 2020

Konsep Transit Oriented Development (TOD) semakin ramai dibicarakan pada tahun 2019 karena berkembangnya sistem angkutan umum massal, terutama MRT, di Jakarta. Namun, belum banyak orang yang memahami Transit Oriented Development (TOD) dan hal-hal yang terkait TOD. Berikut adalah 5 hal yang perlu diketahui tentang Transit Oriented Development (TOD):

1.Pengertian Transit Oriented Development (TOD)

Transit Oriented Development (TOD) adalah konsep pembangunan daerah yang terfokus pada titik-titik transit angkutan massal, terutama yang bersinggungan dengan jaringan angkutan lain. Setidaknya ada tiga poin yang harus ada dalam pengembangan Transit Oriented Development (TOD). Ketiganya adalah integrasi antar jaringan angkutan umum massal, pengurangan penggunaan kendaraan bermotor, serta meningkatkan intensitas pemanfaatan ruang (land use).

Kawasan Transit Oriented Development (TOD) lebih mengutamakan pejalan kaki, pesepeda dan angkutan umum massal sebagai moda mobilitas utama. Dengan mengukur kemampuan dan keinginan berjalan kaki, kawasan TOD memiliki radius 350-700 meter dari pusat transit menuju pusat kegiatan lain.

Lantas, di mana sajakah pengembangan kawasan TOD di Indonesia? Sejauh ini, konsep TOD di Indonesia tengah berkembang di Jakarta dan juga beberapa kota besar lainnya.

2.Kriteria Kawasan Transit Oriented Development  (TOD)

Beberapa kriteria yang harus dipenuhi kawasan TOD adalah:

  • Kawasan TOD berada di sekitar lokasi pemberhentian angkutan umum yang dilewati angkutan umum massal seperti KRL/MRT/LRT/Busway.
  • Bangunan yang terdapat di kawasan TOD lebih tinggi dibanding kawasan lain agar kegiatan terpusat di kawasan TOD karena ada penambahan kepadatan yang signifikan.
  • Satu kawasan TOD harus bersifat multifungsi, seperti hunian, pusat perbelanjaan dan perkantoran.
  • Kawasan TOD harus memiliki fasilitas pejalan kaki dan sepeda yang baik serta konektivitas yang baik.
  • Kawasan TOD harus membatasi ketersediaan fasilitas kendaraan pribadi.

3.Manfaat Transit Oriented Development (TOD)

Secara umum, penerapan konsep TOD tentunya bermanfaat untuk menerapkan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) dan peningkatan kualitas hidup di sebuah kota. Berbagai manfaat TOD bagi masyarakat sebuah kota antara lain adalah:

  • Waktu perjalanan jadi singkat
  • Masyarakat lebih sehat karena banyak berjalan kaki
  • Ongkos transportasi lebih murah dengan transportasi massal
  • Berkurangnya polusi udara
  • Lebih banyak waktu untuk keluarga karena jarak tepat kegiatan berdekatan
  • Dengan waktu perjalanan yang lebih singkat, orang tidak mudah stres

4.Indikator TOD yang sukses

Di banyak negara, pengembangan TOD adalah upaya untuk mencapai transformasi kota menjadi lebih baik dan sehat bagi penduduknya. Beberapa indikator tercapainya  TOD yang sukses antara lain adalah:

  • Pembangunan yang berorientasi pejalan kaki.
  • Kawasan TOD mempunyai trotoar yang nyaman untuk pejalan kaki dan mempunyai ruang transit antar jaringan transportasi serta mempunyai muka bangunan gedung yang aktif. Konektivitas antar gedung, terutama dengan gedung stasiun atau terminal, juga baik.
  • Ruang terbuka untuk publik yang hidup.
  • Tersedia di sekitar wilayah TOD, ruang terbuka akan dijadikan titik kumpul atau titik istirahat para penumpang di sekitar daerah TOD.
  • Bangunan yang selalu hidup 24 jam.
  • Penggunaan lahan campuran (mixed-use) untuk tiap-tiap gedung yang ada di kawasan TOD sehingga tiap bangunan selalu hidup dan menimbulkan rasa nyaman untuk orang di sekitarnya.

5.Tantangan dalam membangun kawasan TOD di Jakarta

Pembangunan kawasan TOD memerlukan pendekatan yang terintegrasi untuk implementasi perencanaan dengan baik pada setiap tingkatan. Selama menyusun rencana pembangunan kawasan TOD, beberapa tantangan yang akan ditemui di antaranya:

  • Belum ada analisa masterplan kawasan, sehingga belum ada perencanaan pembangunan TOD yang komprehensif dan berkelanjutan.
  • Kawasan TOD terdiri dari beberapa area yang dimiliki oleh swasta maupun pemerintah dan belum ada peraturan tentang siapa pengelola kawasan TOD.
  • Belum ada revisi peraturan daerah tentang batasan kepadatan kawasan. Daerah TOD harus memiliki kepadatan yang lebih tinggi dengan kegiatan campuran dibanding daerah lain.
  • Belum ada insentif yang cukup bagi pemilik lahan atau bangunan untuk meningkatkan konektivitas di sekitar propertinya agar ideal untuk kawasan TOD.
  • Ukuran persil lahan di sekitar stasiun transportasi massal yang seringkali kecil membatasi fungsi dan kepadatan bangunan yang dapat dibangun.

Jakarta baru saja memulai proyek-proyek dengan konsep TOD di kawasan stasiun MRT. Penerapan konsep TOD di Jakarta yang diimplementasikan dengan benar akan membuat kota jadi lebih manusiawi dan layak hidup bagi masyarakatnya.


Publications

Blog/opinion

News releases

Close Button

Stay Informed!

Sign up here to get our latest content, updates and special events delivered to your inbox.