Belajar dari HDB Singapura: Bisakah KPBU Menjadi Solusi Perumahan Terjangkau di Jakarta?

Pemerintah Singapura telah lama menjadi contoh sukses dalam hal penyediaan skema hunian terjangkau bagi warganya. Melalui Housing & Development Board (HDB), Singapura berhasil menyediakan hunian terjangkau dan berkualitas. HDB Singapura bahkan menerima berbagai penghargaan karena konsisten menyediakan hunian paling hijau, bersih, berkelanjutan, dan berkesadaran sosial di Asia dan dunia. 

Saat ini, lebih dari 80% penduduk Singapura tinggal di flat HDB Singapura. Tak heran, model penyediaan hunian Singapura ini kerap dijadikan rujukan dalam mengatasi krisis perumahan di kota-kota besar, seperti halnya dialami Jakarta. 

Dengan semakin tidak terjangkaunya harga tanah dan meningkatnya pertumbuhan populasi, Jakarta sudah lama membutuhkan solusi perumahan yang layak, terjangkau, dan berkelanjutan bagi warganya.

Mungkinkah pendekatan serupa HDB Singapura dapat diterapkan sebagai solusi krisis perumahan di Jakarta, misalnya melalui skema Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU)? Mari kita bahas kemungkinannya. 

HDB Singapura: Perumahan Publik yang Terjangkau, Terintegrasi dan Berkelanjutan

HDB Singapura dibentuk pada tahun 1960, pasca kemerdekaan Singapura, dengan tujuan mengatasi masalah krisis perumahan Singapura saat itu. Dilansir dari UN-Habitat, dalam waktu 5 tahun dari terbentuknya HDB Singapura, pemerintah Singapura berhasil membangun hampir 55.000 hunian. Angka tersebut lebih dari 2 kali lipat jumlah hunian yang dibangun selama 30 tahun masa pemerintahan kolonial di Singapura. Dan dalam waktu 10 tahun, HDB Singapura  telah berhasil mengatasi sebagian besar krisis perumahan di Singapura.

Melalui HDB Singapura, pemerintah menyediakan tanah, merancang kawasan hunian yang layak, dan menetapkan standar kualitas hidup yang tinggi dengan menerapkan pendekatan terpusat dan sistematis. 

Dengan pendekatan di atas, kesuksesan HDB Singapura jelas tidak hanya terletak pada pembangunan huniannya saja. Sejak awal dikembangkan, proyek HDB Singapura dirancang dengan mempertimbangkan berbagai faktor, dari integrasi dengan transportasi publik, fasilitas sosial, ruang terbuka hijau, hingga upaya menjaga keberagaman sosial. 

Bisa dibilang, HDB Singapura memang bukan sekadar proyek fisik skema hunian terjangkau, melainkan sebuah instrumen kebijakan sosial dan urban yang dirancang agar berkelanjutan untuk jangka panjang.

Kualitas yang ditawarkan oleh HDB Singapura dalam segala aspek di atas terbukti menjadikan flat HDB pilihan utama masyarakat. Dan saat ini, mayoritas besar dari 80% penduduk Singapura yang tinggal di flat HDB juga sudah memiliki hunian mereka secara pribadi. 

KPBU di Indonesia: Potensi Besar, Tantangan Tak Sedikit

Sebelum berbicara soal potensi KPBU untuk mencapai tujuan serupa HDB Singapura, mari kita bahas terlebih dahulu apa itu KPBU.


Dilansir dari situs resmi Kementerian Keuangan RI, secara sederhana KPBU adalah skema yang digunakan oleh pemerintah untuk melibatkan sektor swasta dalam penyediaan infrastruktur dan layanan publik. Dalam konteks penyediaan perumahan, KPBU memungkinkan pihak swasta berpartisipasi dalam  membangun hunian untuk masyarakat dengan dukungan regulasi dan fiskal dari pemerintah.

Sejauh ini, beberapa proyek perumahan berbasis KPBU telah berhasil dirintis di Jakarta. Di antaranya, pengembangan rumah susun sederhana sewa (rusunawa) dan kawasan Transit Oriented Development (TOD). Meskipun belum berlangsung secara masif, contoh proyek berbasis KPBU yang telah dikembangkan dapat memberi gambaran potensi KPBU untuk meningkatkan penyediaan hunian terjangkau di Jakarta dan juga kota-kota besar lainnya di Indonesia. 

Perbandingan HDB dan KPBU: Dua Model, Satu Tujuan

AspekHDB (Singapura)KPBU (Indonesia)
Kepemilikan TanahMayoritas dikuasai negaraCampuran (negara dan swasta)
Skema PembiayaanPemerintah dominanSwasta dominan (dengan dukungan pemerintah)
Integrasi KawasanTerintegrasi penuh  (transportasi, sekolah, ruang publik)Belum merata, masih sektoral
Skala ProyekNasional dan terpusatPer proyek, tergantung minat swasta
Tujuan SosialTinggi  (sistematis,  inklusif, berkelanjutan)Tergantung desain proyek

HDB dan KPBU pada dasarnya memang memiliki prinsip yang berbeda. Perbedaannya yang paling terletak pada kendali, di mana HDB Singapura sepenuhnya dikendalikan negara, dan KPBU memungkinkan partisipasi dan inovasi sektor swasta.

Namun, keduanya terbentuk dari kebutuhan yang sama, yaitu menyediakan hunian layak dan terjangkau bagi masyarakat. 

Lalu, bisakah KPBU Melahirkan Model HDB Versi Jakarta?

Meskipun memiliki potensi besar untuk menyediakan perumahan di Jakarta, hasil yang dapat dicapai melalui pemanfaatan optimal KPBU mungkin tidak dapat disebut model HDB versi Jakarta, karena tidak sepenuhnya sama. 

Namun, dengan desain kelembagaan yang kuat, sinergi antar instansi, dan fokus pada pengembangan kawasan dan bukan hanya bangunan fisik hunian saja, KPBU memiliki potensi besar untuk menjadi landasan ekosistem perumahan publik baru di Jakarta. 

Keberhasilan KPBU dalam mengatasi krisis perumahan di Jakarta tentu tidak terlepas dari kepastian regulasi, insentif fiskal yang menarik, dan kebijakan pemerintah yang memprioritaskan pembangunan hunian bagi warga Jakarta. 

Selain itu, dengan memastikan bahwa setiap proyek KPBU dapat menjawab kebutuhan warga, otomatis KPBU akan memiliki peran dan manfaat luas dan krusial bagi Jakarta, seperti halnya HDB di Singapura. 

Belajar dari HDB Singapura, intervensi negara dalam penyediaan perumahan dan skema hunian terjangkau dapat berhasil jika dijalankan bersamaan  dengan tata kelola yang baik, perencanaan kawasan yang terintegrasi, dan keberlanjutan fiskal. 

Di Indonesia, KPBU membuka peluang besar untuk mengikuti jejak HDB Singapura dengan menggandeng sektor swasta untuk mempercepat pembangunan, sehingga tidak membebani anggaran negara secara langsung. 

KPBU mungkin tidak akan menyulap Jakarta menjadi the next Singapore, tapi bersama dengan KPBU, Jakarta dapat perlahan mengatasi masalah perumahan, one flat at a time

Urban Tourism Jakarta: Kesiapan Jakarta Sebagai Kota Global Dalam Segi Pariwisata

Urban Tourism Jakarta, mengacu definisi dari Organisasi Pariwisata Dunia (UNWTO), Urban Tourism/Wisata Kota adalah tipe kegiatan wisata di suatu kota dengan karakter bawaannya yaitu berbasis ekonomi non-pertanian seperti administrasi, manufaktur, perdagangan dan jasa serta manjadi titik simpul transportasi. 

Ada beberapa contoh kota destinasi urban dunia seperti New York, London, Tokyo, Paris dan Dubai. Fitur utama daya tarik wisatanya yaitu seperti bangunan bersejarah, pusat perbelanjaan, pusat kegiatan perdagangan & wisata bisnis, beraneka ragam kuliner, konser & pameran seni global serta pusat berbagai hiburan keluarga dan hiburan malam. 

Berbagai faktor lain yang biasanya menjadi atribut juga adalah konektivitas transportasi yang memadai serta kunjungan wisatawan-nya yang relatif lebih singkat pada akhir minggu dibanding dengan tipe destinasi wisata lain.

Wisata kota memberikan kontribusi ekonomi yang cukup besar untuk daerahnya namun dengan konsekuensi munculnya berbagai masalah dan tantangan seperti isu kepadatan penduduk, peningkatan biaya hidup, kemacetan, meningkatnya kriminalitas kota dan permasalahan-permasalahan lingkungan.

Jakarta dengan posisinya sebagai destinasi wisata kota banyak sisi yang bisa dibahas dengan berbagai faktornya. Orang berkunjung ke Jakarta baik dengan tujuan domestik maupun internasional biasanya mengacu kepada kunjungan bisnis ataupun rekreasional. Banyaknya kantor perusahaan multinasional yang berlokasi di Jakarta turut menjadi faktor penyumbang besar kunjungan dari wisatawan.

Walaupun banyak kota besar lain di Indonesia yang belakangan semakin berkembang dan memiliki potensi wisata urban, namun Jakarta membuktikan dapat tetap mempertahankan posisinya di Indonesia sebagai destinasi wisata kota.

Perbandingan dengan negara tetangga, apa yang mereka lakukan untuk memajukan pariwisata mereka

Sebagai bahan pembelajaran dapat kita lihat dari negara tetangga (Asia Tenggara) terkait posisi kota mereka sebagai destinasi urban tourism dan upaya apa yang telah dilakukan dan pencapaiannya.

Contoh sukses kota global di Asia Tenggara yang juga menjadi tujuan wisata urban adalah Singapura dan Bangkok

Dalam konteks kota global, daya tarik wisata sering dijadikan tolak ukur dalam penilaian bersama dengan penilaian infrastruktur, konektifitas, peran bisnis, tingkat keberlanjutan dan kontribusi kebudayaan.

Singapura menempati posisi tertinggi sebagai kota global di Asia tenggara. Singapura memiliki infrastruktur kelas dunia baik laut, darat, maupun udara. Bahkan Bandar Udara Changi Singapura adalah salah satu airport terbaik di dunia. Mereka memiliki sistem transportasi publik yang efisien dan telah lama menerapkan penuh digitalisasi dan teknologi kota pintar (smart city) serta memiliki tingkat kebersihan dan keamanan yang sangat tinggi. Pencapaian ini membuat kota Singapura jauh menjadi yang paling unggul sebagai kota global walaupun berimplikasi terhadap biaya yang cukup tinggi sebagai destinasi wisata urban.

Selain itu ada Bangkok yang memiliki peringkat kedua. Bangkok juga telah memiliki sistem transportasi publik yang modern dan efisien. Cakupan yang memadai untuk area-nya, memiliki peran ekonomi dan budaya global yang kuat. Selain itu Bandara Internasional Suvarnabhumi memiliki konektivitas yang tinggi dan merupakan salah satu bandara tersibuk di Asia Tenggara. Bangkok juga dikenal dengan biaya hidup yang relatif murah, pusat perbelanjaan dan berbagai hiburan malam, juga menambah daya tariknya sebagai destinasi wisata urban internasional.

Jakarta adalah kota dengan penduduk terbanyak se-Asia Tenggara, merupakan kota pusat ekonomi dan politik di Indonesia namun belum memiliki peran yang cukup berpengaruh untuk tingkatan global.

Infrastruktur pariwisata dan sistem transportartasi publiknya masih kurang memadai, saat ini masih dalam tahap pengembangan. Permasalahan kemacetan dan buruknya kualitas udara adalah beberapa faktor kendala Jakarta sebagai destinasi Urban Tourism global, walaupun tetap masih menjadi pintu masuk penting internasional ke Indonesia.

Berikut langkah dan upaya Jakarta untuk destinasi Urban Tourism.

Infrastruktur Transportasi Terpadu

Pengembangan Kawasan Wisata Perkotaan

Semoga Jakarta bisa segera menyusul menjadi kota yang selalu dituju oleh wisatawan ya, Urbanites! 

Program 100 Hari Gubernur Jakarta Terpilih: Wisata Edukasi Jakarta

Kota Jakarta tengah bersiap untuk menyukseskan 11 program unggulan Gubernur dan Wakil Gubernur Jakarta terpilih, Pramono Anung dan Rano Karno, yang akan dilaksanakan dalam waktu 100 hari pertama setelah pelantikan. 

Salah satu program unggulan tersebut adalah penyediaan akses gratis ke berbagai tempat wisata edukasi di Jakarta. Langkah ini bertujuan untuk meningkatkan wawasan masyarakat, khususnya pelajar dan mahasiswa, serta mendorong minat terhadap sejarah, budaya, dan ilmu pengetahuan. 

Melalui program ini, manfaat akses gratis terhadap wisata edukasi di Jakarta diterima oleh: 

Dengan mendapatkan akses gratis, otomatis pelajar dan mahasiswa Jakarta dapat lebih mudah dan terpanggil untuk mengunjungi berbagai destinasi wisata edukasi di Jakarta. 

Selain itu, Jakarta juga mengakomodasi wisata edukasi dengan menyediakan berbagai moda transportasi umum yang memudahkan masyarakat untuk mencapai berbagai destinasi wisata edukasi di Jakarta. Sistem transportasi seperti TransJakarta, MRT, LRT, dan KRL Commuter Line memungkinkan akses yang lebih mudah dan terjangkau. 

Misalnya, untuk mencapai Monas, masyarakat dapat menggunakan TransJakarta koridor 1 yang berhenti di Halte Monas atau MRT Jakarta dengan turun di Stasiun Bundaran HI dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. 

Contoh lainnya, untuk menuju TMII, pengunjung dapat naik TransJakarta koridor 9 atau 9C dan turun di Halte Taman Mini Garuda. 

Lalu, apa saja contoh tempat wisata edukasi di Jakarta yang nantinya dapat dikunjungi tanpa dipungut biaya? Berikut beberapa destinasi wisata edukasi terpopuler di Jakarta. 

Beberapa Destinasi Wisata Edukasi di Jakarta

1. Monumen Nasional (Monas)

Tak hanya menyandang status sebagai landmark utama atau ikon Jakarta, Monas juga merupakan simbol perjuangan kemerdekaan Indonesia. Monas sudah tentu termasuk destinasi wisata edukasi di Jakarta di mana pengunjung dapat belajar tentang sejarah kemerdekaan melalui diorama dan juga menikmati pemandangan Jakarta dari puncak monumen. 

Harga tiket untuk naik ke puncak Monas adalah Rp24.000,-/orang untuk dewasa, Rp13.000,-/orang untuk mahasiswa, dan Rp6.000,-/orang untuk anak-anak. Dan untuk mengakses museum dikenakan tiket seharga Rp8.000,-/orang untuk dewasa, Rp5.000,-/orang untuk mahasiswa, dan Rp3.000,-/orang untuk anak-anak.

2. Taman Mini Indonesia Indah (TMII)

TMII merupakan tempat wisata edukasi di Jakarta yang memperkenalkan keragaman budaya Indonesia melalui anjungan daerah, museum, dan wahana interaktif lainnya. Pengunjung dapat melihat rumah adat, pakaian tradisional, dan seni budaya dari berbagai provinsi di Indonesia.

Harga tiket masuk TMII yaitu Rp35.000,-/orang, Rp15.000,-/motor, Rp35.000,-/mobil, Rp10.000,-/sepeda, dan Rp60.000,-/bus.

3. Museum Nasional Indonesia

Destinasi yang juga dikenal sebagai Gedung Gajah ini memiliki berbagai koleksi arkeologi, etnografi, dan sejarah Indonesia. Destinasi wisata edukasi di Jakarta ini ideal untuk memahami perjalanan panjang peradaban Nusantara dari zaman prasejarah. 

Harga tiket museum ini pun terbilang terjangkau, yaitu Rp25.000,-/orang untuk dewasa dan  Rp15.000,-/orang untuk anak-anak.

4. Museum Sejarah Jakarta (Museum Fatahillah)

Museum Sejarah Jakarta/Museum Fatahillah, salah satu highlight di kawasan Kota Tua, merupakan pilihan tempat wisata edukasi murah di Jakarta. Museum ini menyajikan koleksi benda bersejarah dari masa kolonial, termasuk penjara bawah tanah yang dahulu digunakan pada era penjajahan. Harga tiket masuk museum ini Rp10.000,-/orang untuk dewasa dan Rp5.000,-/orang untuk anak-anak dan pelajar. Saat weekend, harga tiket dewasa Rp15,000,-/orang.

5. Museum Bank Indonesia

Museum Bank Indonesia/MuBI, merupakan tujuan wisata edukasi di Jakarta yang menyajikan koleksi mengenai perkembangan sistem perbankan di Indonesia, dari masa kolonial hingga era modern. Di MuBI, pengunjung dapat melihat koleksi uang kuno serta mempelajari hal-hal terkait ekonomi dalam sejarah bangsa. MuBI termasuk tempat wisata edukasi murah di Jakarta. Harga tiket masuk untuk pengunjung umum adalah Rp5.000,-. Dan pelajar, anak-anak, serta rombongan yang sudah mendaftar (dan dikonfirmasi pihak MuBI) dapat berkunjung secara gratis.

6. Museum Wayang

Museum Wayang merupakan tempat wisata edukasi di Jakarta yang menawarkan wawasan tentang berbagai jenis wayang dari seluruh Indonesia dan dunia, termasuk wayang kulit dan wayang golek. Harga tiket masuk museum ini pun sangat terjangkau, yaitu Rp10.000,-/orang untuk dewasa dan Rp5.000,-/orang untuk anak-anak dan pelajar.

7. Museum Tekstil Jakarta

Di Museum Tekstil, pengunjung bisa belajar tentang beragam kain tradisional Indonesia, seperti batik, songket, dan tenun. Museum ini juga memamerkan alat-alat tenun dan menyediakan workshop membatik bagi pengunjung yang ingin mencoba langsung proses pembuatannya. Tempat wisata edukasi di Jakarta Barat ini merupakan bagian dari Museum Seni Dinas Kebudayaan Jakarta. Harga tiket masuk untuk dewasa yaitu Rp10.000,- untuk hari Selasa-Jumat dan Rp15.000,- saat weekend. Dan harga tiket masuk untuk mahasiswa, pelajar, dan anak-anak yaitu Rp5.000,- sepanjang minggu.

8. Taman Margasatwa Ragunan

Kebun binatang ini merupakan tempat wisata edukasi anak di Jakarta yang sangat menyenangkan. Di sini, anak-anak dapat belajar tentang satwa Indonesia dan dunia sembari menikmati suasana outdoor yang santai. Dengan koleksi lebih dari 2.000 hewan, pengunjung dapat memahami lebih jauh tentang keanekaragaman hayati dan upaya konservasi satwa liar. 

Harga tiket Taman Margasatwa Ragunan pun sangat terjangkau, yaitu Rp4.000,-/orang untuk dewasa dan Rp3.000,-/orang untuk anak-anak.

9. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia

Sebagai salah satu perpustakaan terbesar di Asia Tenggara, Perpustakaan Nasional menawarkan koleksi buku yang sangat luas serta berbagai fasilitas belajar modern, termasuk ruang baca yang nyaman dan akses digital ke berbagai literatur akademik. 

Layanan Perpusnas tersedia secara gratis, baik untuk pendaftaran keanggotaan maupun sekedar berkunjung.


Tak perlu diragukan, program akses gratis wisata edukasi di Jakarta merupakan langkah positif untuk mendukung pendidikan dan pelestarian budaya, dan kebiasaan belajar di luar lingkungan sekolah atau kampus. 

Semoga program ini berjalan dengan sukses dan menginspirasi kota-kota lain di Indonesia untuk menerapkan kebijakan serupa! 

Together, we can build a better city!

Jakarta sebagai Kota Konser: Definisi dan Faktor Penghambat Jakarta Menjadi Concert City

Jakarta memiliki potensi untuk menjadi salah satu concert city di Asia Tenggara. Seperti telah sukses dicapai oleh Singapura, Jakarta pun dapat memanfaatkan industri musik untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan citranya sebagai kota global. 

Tapi, apakah Jakarta dapat sukses menjadi concert city

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, mari kita bahas terlebih dahulu definisi concert city atau kota konser, mengapa Jakarta layak menjadi kota konser, dan faktor penghambat dalam mewujudkan Jakarta sebagai kota konser. 

Apa definisi concert city?

Concert city atau kota konser adalah kota yang secara rutin menjadi tuan rumah berbagai pertunjukan musik, dari konser artis lokal hingga artis internasional. Concert city juga dikenal dengan istilah music city atau kota musik. 

Menurut the International Federation of the Phonographic Industry, kota musik, atau kota konser, dapat didefinisikan sebagai tempat yang memiliki ekonomi musik yang hidup dan mendatangkan manfaat secara ekonomi, budaya, dan sosial, termasuk melalui terciptanya lapangan pekerjaan.

Untuk menjadi concert city, suatu kota harus memiliki infrastruktur yang mendukung, seperti venue berkualitas, konektivitas dan akses transportasi yang baik, lahan parkir yang luas, dan layanan dan sarana pendukung lainnya. Selain itu, concert cityseringkali juga memiliki komunitas musik yang aktif dan budaya yang menghargai seni pertunjukan.

Beberapa concert city terbaik di Asia antara lain: Tokyo, Seoul, Singapura, dan Hong Kong. 

Mengapa Jakarta layak menjadi concert city?

1. Venue konser yang memadai

Jakarta memiliki beberapa venue yang mampu menampung konser berskala besar, antara lain, Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta International Stadium, dan Jakarta International Expo. Venue-venue seperti ini memungkinkan penyelenggaraan konser dengan kapasitas penonton yang besar dengan fasilitas memadai.

2. Dampak ekonomi yang positif

Penyelenggaraan konser musik dapat berkontribusi signifikan terhadap perekonomian daerah seperti kenaikan okupansi hotel di sekitar lokasi konser, kenaikan pengunjung mall juga restoran di sekitar lokasi konser dan lain sebagainya. Di sisi lain, penambahan pendapatan negara dari sisi pajak juga dihasilkan oleh konser dan kegiatan di dalamnya.  Selain itu, terwujudnya Jakarta sebagai kota konser dapat menyediakan peluang lapangan kerja baru bagi warga lokal, seperti tenaga kerja untuk pembangunan panggung, pengaturan peralatan audio-visual, pengelolaan tiket, dan lain sebagainya. 

3. Visi Jakarta sebagai kota global

Visi Jakarta sebagai kota konser sejalan dengan upaya meningkatkan daya saing dan citra internasional Jakarta sebagai kota global. Selain itu, sebagai kota konser, cultural value Jakarta akan meningkat, sehingga menarik lebih banyak wisatawan untuk berkunjung. Dengan kata lain, Jakarta sebagai kota konser dapat mendukung perjalanan terwujudnya Jakarta sebagai kota global. 

Tantangan dalam mewujudkan Jakarta sebagai kota konser:

1. Perizinan dan regulasi

Proses perizinan dan birokrasi yang kompleks dapat menghambat atau memperlambat penyelenggaraan konser. Birokrasi rumit yang melibatkan beberapa lembaga terpisah, seperti di Jakarta, juga membuat biaya penyelenggaraan konser meningkat. Hal ini berdampak terhadap harga tiket konser yang menjadi lebih mahal.
Untuk mewujudkan Jakarta sebagai kota konser, diperlukan penyederhanaan prosedur dan transparansi dalam perizinan. Dengan demikian, Jakarta dapat lebih sering menjadi tuan rumah konser artis internasional. Dan juga, harga tiket dapat lebih terjangkau bagi penonton dari dalam dan luar negeri, dan lebih bersaing dengan concert city lainnya, terutama di Asia Tenggara.

2. Kemacetan, infrastruktur, dan aksesibilitas

Kemacetan lalu lintas di Jakarta merupakan salah satu tantangan dalam mewujudkan Jakarta sebagai kota konser. Peningkatan infrastruktur transportasi publik dan manajemen lalu lintas yang efektif diperlukan untuk memastikan akses yang mudah ke lokasi konser. Selain itu, ketersediaan lahan parkir juga masih perlu ditingkatkan.


Jakarta yang penuh warna dan kaya budaya memiliki potensi yang besar untuk menjadi concert city. Dan jika beberapa tantangan di atas segera teratasi, dalam beberapa tahun, Jakarta mungkin saja menjadi salah satu concert cityterpopuler di Asia Tenggara. Nah, warga Jakarta apakah sudah bersemangat menikmati perks tinggal di kota konser? 

Beli atau Sewa Rumah: Ini Kelebihan dan Kekurangan Rumah Sewa

Dalam kehidupan masa sekarang, terutama di daerah perkotaan, pilihan antara beli atau sewa rumah menjadi salah satu keputusan besar yang harus diambil banyak orang. Rumah sewa sering dianggap sebagai alternatif yang lebih fleksibel, praktis, dan mudah terealisasi dibandingkan membeli rumah, terutama pada tahap awal housing career seseorang. 

Meski rumah sewa merupakan pilihan yang lebih mudah, praktis, dan ekonomis untuk jangka pendek, pilihan untuk beli atau sewa rumah harus dipertimbangkan secara matang. Sebelum mengambil keputusan untuk menyewa rumah, melanjutkan kontrak rumah, atau memilih antara beli atau sewa rumah, sebaiknya Anda memahami terlebih dahulu kelebihan dan kekurangan rumah sewa dari berbagai sudut pandang. Berikut pembahasannya

Kelebihan rumah sewa

  1. Biaya awal yang lebih ekonomis
    Salah satu alasan utama orang memilih untuk menyewa rumah adalah biaya awal yang jauh lebih rendah dibandingkan membeli rumah. Untuk membeli rumah, Anda memerlukan uang muka dengan nominal yang signifikan, pada umumnya mencapai 10-30% dari harga rumah. Biaya ini belum termasuk biaya lainnya, seperti pajak properti dan biaya notaris.
    Sementara itu, menyewa rumah biasanya hanya membutuhkan pembayaran uang sewa bulanan, deposit, dan biaya pindah yang relatif rendah. Jika mengontrak secara tahunan, biaya yang diperlukan pun masih tidak seberapa jika dibandingkan uang muka rumah, dan sepanjang setahun ke depan penyewa tidak lagi perlu mengkhawatirkan biaya hunian.
  2.  Fleksibilitas dalam memilih lokasi
    Menyewa rumah lebih memungkinkan seseorang untuk tinggal di lokasi strategis yang harganya sulit terjangkau jika harus membeli properti. Fleksibilitas memilih lokasi ini kerap menjadi bahan pertimbangan utama saat seseorang memilih untuk beli atau sewa rumah, terutama bagi pekerja di kota besar.
  3. Bebas dari biaya perawatan yang besar
    Salah satu faktor yang penting untuk diperhitungkan saat mengevaluasi pilihan beli atau sewa rumah adalah biaya perawatan rumah milik yang tidak sedikit. Jika Anda belum memiliki kesiapan finansial untuk menanggung biaya ini, rumah sewa merupakan pilihan yang lebih ideal daripada rumah milik. 
    Beban pemeliharaan dan perawatan properti biasanya ditanggung oleh pemilik properti, sehingga penyewa rumah tidak perlu mengkhawatirkan pengeluaran tak terduga terkait pemeliharaan bangunan.
  4. Pilihan jangka pendek yang ideal
    Saat mempertimbangkan pilihan beli atau sewa rumah, rencana Anda untuk masa depan memiliki pengaruh besar. Jika tidak ingin berkomitmen jangka panjang untuk tinggal di suatu kota atau daerah, rumah sewa tentu lebih ideal. 
    Sebuah studi dari Harvard Joint Center for Housing Studies menyatakan bahwa faktor fleksibilitas merupakan alasan utama semakin populernya rumah sewa di kalangan milenial.

Kekurangan Rumah Sewa

  1. Tidak adanya unsur investasi
    Salah satu kekurangan utama rumah sewa adalah tidak adanya kepemilikan aset di akhir masa sewa. Uang yang dikeluarkan setiap bulan untuk menyewa tidak menghasilkan investasi seperti halnya jika membayar cicilan rumah. Hal ini patut dipertimbangkan secara matang sebelum menjatuhkan pilihan antara beli atau sewa rumah.
  2. Kenaikan biaya sewa
    Sebelum memutuskan untuk beli atau sewa rumah, perlu Anda ingat bahwa pemilik rumah memiliki hak untuk menaikkan biaya sewa. Jika rumah sewa Anda berlokasi di area yang sedang berkembang pesat, biaya sewa yang harus Anda tanggung akan terus meningkat.
    Berdasarkan data Pinhome Home Rental Index 2024, harga sewa tahunan rumah tipe 54 dan lebih kecil, mengalami kenaikan di banyak kota di Indonesia. Contohnya, terjadi kenaikan kuartalan setinggi 15% di Jakarta Selatan, 12% di Kabupaten Badung, dan 7% di Kota Bandung. Meski beberapa daerah perkotaan menunjukkan penurunan harga sewa, faktor ketidakpastian harga sewa dapat mempengaruhi kondisi finansial penyewa.
  3. Kurangnya kebebasan untuk mengubah dan merenovasi
    Kebanyakan pemilik rumah melarang atau membatasi secara ketat perubahan struktur atau desain interior rumah. Hal ini dapat menjadi kendala bagi mereka yang ingin menjadikan rumah lebih sesuai dengan keperluan dan selera pribadi.
  4. Potensi penghentian kontrak
    Meskipun penyewa berencana untuk tinggal di sebuah rumah sewa untuk waktu lama, pemilik rumah berhak untuk mengakhiri kontrak sewaktu-waktu, dengan pemberitahuan seperti diatur dalam perjanjian sewa-menyewa. Jadi, jika Anda ingin menetap di suatu rumah untuk jangka panjang, ada baiknya Anda pertimbangkan faktor tersebut matang-matang saat memilih antara beli atau sewa rumah

Hal yang harus diperhatikan saat kontrak rumah

  1. Anggaran
    Saat memilih rumah sewa, pastikan biaya sewa tidak melebihi 30% dari pendapatan bulanan Anda
  2. Durasi tinggal
    Jika Anda berencana tinggal lebih di suatu hunian selama lebih dari 10 tahun, sebaiknya Anda mengevaluasi kembali pilihan beli atau sewa rumah.
  3. Lokasi
    Saat memilih rumah sewa, perhatikan akses transportasi dan fasilitas umum, serta potensi kenaikan biaya sewa di masa depan sehingga pilihan Anda dapat berkelanjutan. 

Rumah sewa adalah solusi ideal bagi mereka yang mencari fleksibilitas dan biaya awal rendah, terutama di kota besar. Namun, kekurangan seperti kurangnya investasi jangka panjang dan ketidakpastian kontrak perlu menjadi bahan pertimbangan serius juga. 

Nah, dengan memahami kelebihan dan kekurangan di atas, Anda dapat membuat keputusan yang tepat sesuai dengan kebutuhan dan situasi hidup Anda. 

Jadi, apa pilihan Anda? Mau beli atau sewa rumah? Agar lebih terinformasi saat menjatuhkan pilihan, baca juga artikel Apa itu SHM: Arti, Kelebihan dan Kekurangan Rumah Milik. 

Apa itu SHM: Pengertian, Kelebihan dan Kekurangan Rumah Milik

Saat merencanakan untuk membeli rumah cash atau kredit, tentu ada banyak hal yang perlu dipahami dan dipertimbangkan terlebih dahulu. Salah satunya adalah status kepemilikan rumah yang dapat dibedakan berdasarkan sertifikat properti tersebut. SHM, atau Sertifikat Hak Milik, merupakan bukti kepemilikan properti dengan status terkuat. 

Lalu, apa arti SHM? Berikut penjelasan pengertian SHM beserta kelebihan dan kekurangan rumah milik, atau rumah bersertifikat SHM, di Indonesia. 

Apa Itu SHM?

Sertifikat Hak Milik (SHM) adalah dokumen resmi yang menyatakan kepemilikan sah atas tanah dan bangunan yang diterbitkan oleh Badan Pertanahan Nasional. 

Penjelasan mengenai SHM terdapat dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (UUPA). SHM juga diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah mengenai prosedur pendaftaran tanah serta penetapan status hak atas tanah yang terdaftar.

Menurut peraturan di atas, SHM adalah dokumen bukti kepemilikan sah atas tanah dan/atau bangunan yang tertinggi dan terkuat, dan memberikan pemiliknya hak penuh untuk memanfaatkan, mengelola, serta mewariskan propertinya. 

Perlu diketahui, SHM adalah salah satu dari beberapa jenis sertifikat properti yang ada. Selain SHM, yang menyatakan kepemilikan, terdapat juga sertifikat HGB (Hak Guna Bangunan), HGU (Hak Guna Usaha), dan Hak Pakai yang memberikan bentuk hak yang berbeda dengan batasan yang berbeda, dan tidak sekuat SHM. Mengingat arti SHM beserta hak yang didapatkan dari sertifikat ini, sebelum membeli properti, pastikan Anda mengetahui jenis sertifikat properti tersebut. 

Nah, memahami apa arti SHM dan kepemilikan properti seperti dijelaskan di atas, lantas apa kelebihan dan kekurangan rumah milik di Indonesia? Berikut penjelasannya. 

Kelebihan rumah milik di Indonesia

  1. Aset properti jangka panjang 
    Rumah milik, atau rumah dengan SHM, adalah aset investasi yang stabil karena harganya cenderung naik setiap tahun, terutama di Jabodetabek dan kota-kota besar lainnya di Indonesia.

    Menurut data Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia, harga properti residensial di pasar primer pada triwulan I 2024 melanjutkan tren peningkatan, dengan pertumbuhan Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) pada triwulan I 2024 sebesar 1,89% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan triwulan IV 2023 yang sebesar 1,74% (yoy). Data ini menunjukkan bahwa kepemilikan properti residensial merupakan bentuk investasi yang aman.
  2. Menghindari harga sewa rumah yang tidak stabil
    Dengan memiliki rumah sendiri, Anda tidak perlu khawatir akan kenaikan harga sewa hunian yang cenderung terjadi setiap tahun. Ketidakstabilan harga sewa, terutama di kota-kota besar, dapat mengganggu perencanaan keuangan jangka panjang dan berdampak terhadap stabilitas hidup.
  3. Kebebasan membangun dan mendesain rumah sesuai keinginan 
    Membeli rumah cash atau kredit dengan SHM, memberikan pemilik rumah hak penuh atas propertinya, baik untuk merancang, merenovasi, atau memperluas bangunan, sesuai dengan kebutuhan tanpa perlu izin dari pihak lain. Hal ini tentu menawarkan kenyamanan tersendiri bagi pemilik rumah. 
  4. Keamanan finansial pada masa pensiun
    Memiliki rumah sendiri adalah bentuk keamanan finansial yang signifikan, terutama pada usia pensiun ketika pendapatan tetap mungkin menurun atau bahkan tidak ada. Rumah milik bisa dijadikan tempat tinggal tanpa beban biaya sewa atau sumber pendapatan pasif.

Kekurangan rumah milik di Indonesia

  1. Biaya pemeliharaan yang tinggi    
    Kepemilikan rumah tidak terlepas dari konsekuensi biaya pemeliharaan yang harus ditanggung oleh pemilik, termasuk perbaikan rutin dan pemeliharaan kebersihan. Tergantung jenis properti dan kondisi finansial seseorang, biaya pemeliharaan ini dapat menjadi beban yang berat. 
  2. Beban kredit dan bunga KPR
    Sebagian masyarakat Indonesia membeli rumah dengan memanfaatkan kredit kepemilikan rumah (KPR) dengan suku bunga yang cukup tinggi. Beban kredit dan bunga KPR dapat menjadi beban jangka panjang bagi pemilik rumah, terutama dalam kondisi ekonomi yang tidak stabil atau inflasi tinggi.
  3. Efek perubahan regulasi dan pajak properti
    Sebelum membeli rumah cash atau kredit, beban pajak dan regulasi lainnya harus diperhitungkan. Contohnya, pajak bumi dan bangunan (PBB) yang setiap tahun mengalami penyesuaian. Pemilik rumah juga harus menaati berbagai regulasi yang bisa berubah sewaktu-waktu, terutama di wilayah perkotaan.

Memiliki rumah di Indonesia menawarkan berbagai bentuk stabilitas dan manfaat jangka panjang yang bahkan dapat diwariskan kepada generasi seterusnya. Namun, sebelum membeli rumah cash atau kredit, terdapat berbagai faktor yang perlu dipertimbangkan agar pilihan Anda bersifat berkelanjutan. 

Nah, sudah siap mengambil langkah awal untuk memiliki rumah impian Anda? Pastikan Anda memiliki informasi lengkap tentang rumah incaran Anda sebelum maju untuk membelinya, ya!

Jakarta sebagai Kota Global

Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2024 tentang Provinsi Daerah Khusus Jakarta (DKJ) telah ditetapkan pada tanggal 25 April 2024. Namun, saat ini Jakarta masih berstatus Ibu Kota Negara. Status Jakarta baru akan berganti saat Keputusan Presiden tentang pemindahan IKN ke Nusantara telah diterbitkan. Saat itu, Jakarta akan beralih peran dari ibu kota menjadi kota global. Tentu, peran Jakarta sebagai kota global pun tetap penting. 

Lalu, apa itu kota global? Dan apa saja tantangan dalam perjalanan Jakarta menuju kota global? Berikut pembahasannya. 

Apa itu kota global? 

Menurut Saskia Sassen, seorang profesor sosiologi di Columbia University (New York City, AS), kota global merupakan pusat perkotaan yang berfungsi sebagai simpul utama (key node) dalam sistem perekonomian global. Konsep yang dikemukakan Sassen menekankan peran kota-kota tersebut dalam ekonomi global, khususnya dalam hal keuangan, perdagangan, dan informasi. 

Bappeda Provinsi DKI Jakarta juga menetapkan enam indikator kota global, sebagai berikut: 

Lalu, bagaimana visi pembangunan Jakarta sebagai kota global

Sesuai definisi kota global, Provinsi Daerah Khusus Jakarta sebagai pusat perekonomian nasional dan kota global, berfungsi sebagai pusat perdagangan, pusat kegiatan layanan jasa dan layanan jasa keuangan, serta kegiatan bisnis nasional dan global. Menurut Global City Index 2023, saat ini Jakarta sebagai kota global menempati peringkat ke-74 dari 156 kota di dunia. 

Apa tantangan Jakarta menuju kota global

Jakarta memiliki potensi sebagai kota global. Namun, ada sejumlah tantangan yang harus dihadapi. Beberapa tantangan tersebut meliputi masalah digitalisasi, pembangunan rendah karbon, perubahan iklim, kemacetan, polusi udara, banjir, rob dan penurunan tanah, sampah, akses air, kepadatan dan mobilitas penduduk, SDM, serta permukiman kumuh. 

Dari sejumlah tantangan di atas, kemacetan termasuk masalah utama yang dihadapi Jakarta. Oleh sebab itu, salah satu fokus persiapan Jakarta menuju kota global adalah mengurai kemacetan. 

Bagaimana penanganan kemacetan menuju Jakarta sebagai kota global

Menuju Jakarta sebagai kota global, Pemda DKI Jakarta bekerja keras dalam menerapkan berbagai upaya mengurai kemacetan Jakarta secara optimal, yaitu melalui:

Nah, warga ibu kota apakah sudah siap menjadi warga kota global? Semoga Jakarta sebagai kota global bisa menjadi kota yang semakin liveable dan berkelanjutan bagi warganya, ya! Here is to Jakarta’s bright future as a global city! 

Solusi Kemacetan di Jakarta: Integrasi BRT, LRT, dan MRT

Menurut TomTom Traffic Index 2023, saat ini Jakarta menempati urutan ke-30 sebagai kota termacet di dunia dari 387 kota di 55 negara di 6 benua. Tahun sebelumnya, posisi Jakarta tak jauh berbeda, yaitu pada peringkat ke-29. 

Berdasarkan data terdahulu pada indeks ini, tingkat kemacetan Jakarta telah berkurang. Hal tersebut dapat dilihat pada perbandingan data di mana pada tahun 2018 kemacetan Jakarta berada di peringkat ke-7 kota termacet di dunia. 

Melihat posisi Jakarta pada indeks tersebut, sudah tentu masalah kemacetan Jakarta perlu ditangani dengan urgensi tinggi. Oleh sebab itu, pemerintah Provinsi DKI terus bekerja keras untuk mewujudkan solusi kemacetan di Jakarta melalui integrasi transportasi Jakarta. 

Apa itu integrasi transportasi

Menurut The European Local Transport Information Service (ELTIS), integrasi transportasi adalah proses yang bertujuan menjadikan perjalanan menggunakan berbagai moda transportasi menjadi lebih nyaman dan efisien. 

Integrasi moda transportasi dapat memfasilitasi kemudahan dan kenyamanan perjalanan menggunakan dua atau lebih moda transportasi yang berbeda. Integrasi transportasi merupakan salah satu indikator peningkatan kualitas sarana transportasi umum suatu kota dan berpengaruh langsung terhadap tingkat penggunaan transportasi umum di kota tersebut. 

 Bagaimana kondisi integrasi BRT, LRT, dan MRT di Jakarta? 

Saat ini, integrasi transportasi Jakarta sudah semakin meningkat. Hal ini ditandai oleh integrasi Bus Rapid Transit (BRT) Transjakarta, LRT Jakarta, dan MRT Jakarta. Integrasi BRT, LRT dan MRT Jakarta meliputi jalur, halte dan stasiun, metode pembayaran, dan tarif integrasi. Di samping itu, terdapatnya BRT yang melintas Stasiun MRT Jakarta, baik jalur layang maupun bawah tanah, merupakan bentuk lain dari integrasi BRT, LRT dan MRT di Jakarta. 

Salah satu bentuk integrasi transportasi Jakarta yang sudah terlaksana adalah di kawasan Dukuh Atas, Sudirman. Di Dukuh Atas terdapat Stasiun KRL Sudirman, Stasiun KRL BNI City, Stasiun MRT Dukuh Atas, Stasiun LRT Dukuh Atas dan Halte Transjakarta Dukuh Atas 2. Semua stasiun dan halte di daerah Dukuh Atas sudah terintegrasi sehingga masyarakat bisa merasakan kemudahan, kenyamanan dan keamanan saat berpindah moda transportasi. 

Kemudahan yang dirasakan meliputi banyaknya papan penunjuk arah yang memungkinkan penumpang untuk berpindah moda dengan tepat. Kenyamanan yang dimaksud adalah situasi di mana semua pergerakan penumpang sudah diatur dengan baik sehingga tidak bercampur dengan kendaraan roda dua maupun roda empat. Lalu, keamanan pun terjaga melalui tersedianya petugas keamanan yang berjaga di sekitar kawasan integrasi serta petugas stasiun dan halte yang siap melayani penumpang. 

Dengan menawarkan kemudahan dan kenyamanan serta keamanan dalam menggunakan transportasi umum, integrasi transportasi Jakarta dapat menjadi solusi kemacetan Jakarta. Warga Jakarta yang tadinya menggunakan kendaraan pribadi diharapkan perlahan beralih menggunakan kendaraan umum, mengurangi tingginya angka kendaraan pribadi yang membuat Jakarta macet. 

Nah, sudah siap memanfaatkan integrasi transportasi umum di Jakarta? Mari kita mulai beralih ke penggunaan transportasi umum untuk turut menangani masalah kemacetan Jakarta. Together, we can make a change! 

Cara Naik KRL ke Lebak Bulus dari Berbagai Arah di Jabodetabek

Lebak Bulus adalah sebuah kawasan di Jakarta Selatan yang dikenal sebagai salah satu pusat perkembangan kota dengan berbagai fasilitas dan infrastruktur yang baik. Lebak Bulus juga merupakan salah satu titik penting dalam jaringan transportasi Jakarta.  

Lebak Bulus memiliki stasiun MRT, yaitu Stasiun MRT Lebak Bulus Grab. Stasiun ini adalah salah satu stasiun penting dalam jaringan MRT Jakarta dan merupakan titik awal dari rute MRT Lebak Bulus menuju pusat kota Jakarta hingga ke Bundaran HI.

Layaknya kawasan TOD, Lebak Bulus juga memiliki sederet pusat perbelanjaan dan lifestyle yang ramai dikunjungi masyarakat Jakarta dari berbagai penjuru. Tak hanya fasilitas gaya hidup, kawasan ini juga memiliki banyak mixed-use buildings, termasuk pusat bisnis, sarana pendidikan, kesehatan, olahraga, dan lain-lain. 

Tak heran, Lebak Bulus merupakan kawasan yang kerap dikunjungi oleh masyarakat Jabodetabek. Lalu, bagaimana cara naik KRL ke Lebak Bulus? 

Cara naik KRL ke Lebak Bulus

Di kawasan Lebak Bulus tidak terdapat stasiun KRL Commuterline. Jadi, untuk menggunakan KRL untuk mencapai Lebak Bulus, penumpang biasanya harus melakukan transfer ke MRT Jakarta di salah satu stasiun KRL terdekat dari MRT Lebak Bulus atau stasiun dengan konektivitas terbaik.

Berikut panduan cara naik KRL ke Lebak Bulus dari beberapa arah di Jabodetabek:

Cara naik KRL ke Lebak Bulus dari Stasiun Bogor dan Stasiun Depok

Cara naik KRL ke Lebak Bulus dari Stasiun Cikarang dan Stasiun Bekasi

Cara naik KRL ke Lebak Bulus dari Stasiun Tangerang 

Cara naik KRL ke Lebak Bulus dari Stasiun Jakarta Kota

Nah, apakah Anda sudah siap untuk bepergian dengan sepenuhnya mengandalkan transportasi umum massal Jakarta? Seiring tercapainya integrasi transportasi Jakarta yang semakin baik, sudah saatnya juga kita semakin pandai memanfaatkannya. Selamat mencoba-coba rute baru, ya! 

Housing Career di Jakarta: Definisi dan Faktor Penghambatnya

Apa itu housing career

Istilah housing career mengacu pada urutan pilihan dan transisi perumahan seorang individu atau rumah tangga sepanjang hidupnya. Konsep ini mencakup berbagai tahapan dan jenis perumahan yang dihuni seseorang dari tahun ke tahun. 

Biasanya, tahapan-tahapan yang dilalui berjalan selaras dengan milestones dalam hidup seseorang serta perubahan status sosial ekonomi dalam hidupnya. Elemen utama dari housing career meliputi: 

  1. Rumah pertama, yaitu saat seseorang menyewa atau membeli hunian pertamanya,
  2. Rumah saat telah berkeluarga, yaitu saat seseorang pindah ke rumah yang lebih besar atau lebih sesuai karena berkeluarga atau memiliki anak, 
  3. Rumah saat karir telah maju, yaitu saat seseorang memilih hunian baru yang merupakan upgrade hunian sebelumnya karena mengalami kemajuan dalam karir dan kondisi finansialnya, 
  4. Perampingan rumah, yaitu saat seseorang memilih pindah ke rumah yang lebih kecil ketika anak-anaknya telah dewasa dan meninggalkan rumah, 
  5. Rumah masa pensiun, yaitu saat seseorang memilih untuk tinggal di perumahan khusus usia pensiun atau hunian dengan fasilitas khusus untuk lansia. 

Jakarta belum mampu menyediakan ekosistem yang memungkinkan terjadinya housing career. 

Faktor yang menghambat Jakarta belum mampu menyediakan housing career antara lain adalah belum terjangkaunya harga hunian, backlog perumahan, terbatasnya intervensi kebijakan finansial dari pemerintah, dan kurangnya variasi jenis hunian. 

Mengapa Jakarta belum bisa menyediakan ekosistem yang memungkinkan terbentuknya  housing career?

Meskipun housing career semestinya dapat berlangsung seiring dengan milestones dalam hidup seseorang, menjalani housing career di Jakarta merupakan hal yang sangat menantang. Seperti telah disinggung sebelumnya, berikut adalah beberapa faktor penghambat terbentuknya housing career di Jakarta, antara lain: 

1. Backlog perumahan 

Jakarta mengalami backlog atau kekurangan perumahan layak dengan harga terjangkau. Data menunjukkan bahwa permintaan perumahan di Jakarta jauh melebihi suplai yang tersedia, terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah dan menengah. Krisis hunian ini disebabkan oleh beberapa faktor seperti terbatasnya lahan di kota, tingginya harga tanah serta angka pertumbuhan penduduk Jakarta yang tinggi. 

Masalah backlog perumahan di Jakarta dapat ditangani dengan membangun Jakarta secara vertikal dengan mengusung konsep compact city, seperti Tokyo misalnya. Pemerintah dapat bekerja sama dengan pihak swasta membangun Jakarta ke atas sehingga memanfaatkan ruang secara optimal, dimulai dari lahan milik pemerintah. 

Dengan mengatasi masalah backlog perumahan, masa depan housing career di Jakarta pun berpotensi untuk lebih baik.

2. Terbatasnya intervensi kebijakan finansial dari pemerintah

Intervensi kebijakan finansial dari pemerintah untuk mendukung akses perumahan layak di Jakarta terbilang masih terbatas. Subsidi perumahan masih belum mencukupi dan persyaratan memperoleh KPR juga masih menyulitkan sebagian masyarakat untuk bisa membeli rumah. Di samping itu, suku bunga KPR juga terbilang cukup tinggi. 

Intervensi pihak pemerintah berupa kebijakan finansial yang sesuai untuk skema kepemilikan rumah, seperti penurunan suku bunga KPR, dapat membantu menjadikan housing career di Jakarta lebih memungkinkan. 

3. Kurangnya variasi jenis hunian 

Selain itu, faktor penghambat housing career di Jakarta adalah jenis hunian yang masih belum bervariasi. Contohnya, saat ini hunian yang tersedia umumnya terbatas pada tipe rumah susun atau apartemen dengan 1 sampai 3 kamar dan rumah tapak dengan luas 36 sampai 480 meter persegi. Hingga saat ini, di Jakarta belum ada tipe hunian yang menunjang hidup bersama seperti co-living atau co-residence

Nah, kira-kira bagaimana perjalanan Anda terkait housing career di Jakarta? Semoga dengan kebijakan yang tepat, Jakarta dapat menyediakan ekosistem yang memungkinkan warganya memiliki housing career. Here’s to us having a housing career in Jakarta