Kepadatan atau Overcrowding, Mana yang Harus Dihindari?

16 April 2021

Covid-19 mengubah pola kehidupan. Kehidupan bersosial dalam bentuk berkumpul dan bertatap muka langsung harus ditinggalkan karena virus ini menular lewat cairan mulut ketika berbicara. Kehidupan perkotaan yang tadinya ramai jadi sepi. Lantas bagaimana dengan kelangsungan compact city yang mengandalkan kepadatan untuk perkembangannya? Haruskah penerapan dan pengembangan compact city juga dihindari? 

1.Kenapa wilayah padat tidak lantas menjadi rentan terjangkit Covid-19?

Banyak kota dengan kepadatan tinggi seperti Tokyo, Hong Kong, Taipei dan Singapura justru jumlah kasusnya lebih rendah dibandingkan kota lain. Kesamaan dari kota-kota yang tergolong dalam compact city ini adalah kepadatan yang tertata dan fasilitas kesehatan yang mumpuni. Salah satunya dengan tingkat kemampuan tracing yang tinggi sehingga kasus bisa di lokalisasi dan tidak lebih menyebar. 

2.Kalau bukan kepadatan, lantas apa yang membuat pandemi lebih rentan di kota besar?

Dari segi kesehatan, pertahanan pertama dari penyebaran virus adalah tracing dan karantina yang telah terdampak. Namun, dari perspektif ruang, masalah utamanya adalah overcrowded area (area rapat/sumpek) dengan kemiskinan terkonsentrasi yang tinggi (concentrated poverty). Masalah ini ditemui di berbagai area permukiman kumuh di Jakarta

Kepadatan berhubungan dengan jumlah hunian yang berada di total luas area lantai. Sedangkan overcrowding itu kondisi saat terlalu banyak orang yang berada dalam hunian tersebut. Kedua hal ini sering disamaratakan oleh para pegiat urban. (disarikan dari pernyataan Jane Jacobs tentang kepadatan lahan dan keramaian penduduk). 

Kebanyakan wilayah overcrowding ini juga tempat concentrated poverty berada. Di sana, kebanyakan penduduknya berpenghasilan rendah dengan beban hunian dalam satu rumah (overcrowded houses). Sehingga, jarak fisik sulit diterapkan, tidak adanya ruang publik atau ruang terbuka hijau komunal dan sanitasi sering tidak terjaga. Kondisi tersebut menggambarkan banyak sekali ditemukan pada area permukiman kumuh di berbagai wilayah di kota Jakarta.

Tidak hanya lebih rentan berdampak pada area permukiman kumuh di Jakarta saja, pandemi juga lebih rentan di wilayah overcrowded di Singapura. Di sana, penyebaran Covid-19 lebih rentan terjadi di asrama para pekerja migran yang dihuni lebih dari 10 orang dalam satu kamar.

3.Bagaimana cara agar pandemi di wilayah-wilayah dengan concentrated poverty tinggi bisa ditekan?

Untuk kasus Covid-19, tracing dan self-contained adalah solusi paling baik. Namun, untuk masalah kesehatan dan pandemi secara umum, ada pendekatan-pendekatan tata kota yang bisa dilakukan untuk menekan dampak negatif yang telah berlangsung akibat urban sprawl overcrowding di Jakarta.  

Ada beberapa rekayasa spasial dan sosial yang bisa dilakukan agar tingkat kesehatan masyarakat meningkat. Salah satunya, meningkatkan kepadatan bangunan dengan bangunan vertikal, atau menerapkan compact city development yang memajukan vertical growth, sehingga overcrowded houses bisa dihindari. Penerapan konsep compact city ini tentunya dapat meningkatkan penggunaan lahan secara efektif sehingga membantu mengatasi masalah permukiman kumuh di Jakarta. 

Selain itu, menerapkan hunian dengan konsep penghasilan campuran (mixed income) juga solusi yang bisa diambil. Bila masyarakat berpenghasilan rendah tinggal di lingkungan yang mixed income, kualitas hidup mereka juga ikut meningkat. Masyarakat yang tinggal di lingkungan yang mixed income juga punya daya tawar lebih tinggi ketika menuntut fasilitas kesehatan dan perbaikan sanitasi lingkungan.


Publications

Blog/opinion

News releases

Close Button

Stay Informed!

Sign up here to get our latest content, updates and special events delivered to your inbox.