Jakarta sebagai Kota Global
Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2024 tentang Provinsi Daerah Khusus Jakarta (DKJ) telah ditetapkan pada tanggal 25 April 2024. Namun, saat ini Jakarta masih berstatus Ibu Kota Negara. Status Jakarta baru akan berganti saat Keputusan Presiden tentang pemindahan IKN ke Nusantara telah diterbitkan. Saat itu, Jakarta akan beralih peran dari ibu kota menjadi kota global. Tentu, peran Jakarta sebagai kota global pun tetap penting.
Lalu, apa itu kota global? Dan apa saja tantangan dalam perjalanan Jakarta menuju kota global? Berikut pembahasannya.
Apa itu kota global?
Menurut Saskia Sassen, seorang profesor sosiologi di Columbia University (New York City, AS), kota global merupakan pusat perkotaan yang berfungsi sebagai simpul utama (key node) dalam sistem perekonomian global. Konsep yang dikemukakan Sassen menekankan peran kota-kota tersebut dalam ekonomi global, khususnya dalam hal keuangan, perdagangan, dan informasi.
Bappeda Provinsi DKI Jakarta juga menetapkan enam indikator kota global, sebagai berikut:
- ekonomi yang mapan dan terkoneksi secara global,
- kapasitas riset dan informasi yang baik dan terus-menerus,
- ruang yang nyaman untuk dihuni,
- cultural value yang menarik wisatawan untuk berkunjung,
- lingkungan yang bersih, nyaman dan berkelanjutan, dan
- aksesibilitas yang terkoneksi secara intra dan inter-kota.
Lalu, bagaimana visi pembangunan Jakarta sebagai kota global?
Sesuai definisi kota global, Provinsi Daerah Khusus Jakarta sebagai pusat perekonomian nasional dan kota global, berfungsi sebagai pusat perdagangan, pusat kegiatan layanan jasa dan layanan jasa keuangan, serta kegiatan bisnis nasional dan global. Menurut Global City Index 2023, saat ini Jakarta sebagai kota global menempati peringkat ke-74 dari 156 kota di dunia.
Apa tantangan Jakarta menuju kota global?
Jakarta memiliki potensi sebagai kota global. Namun, ada sejumlah tantangan yang harus dihadapi. Beberapa tantangan tersebut meliputi masalah digitalisasi, pembangunan rendah karbon, perubahan iklim, kemacetan, polusi udara, banjir, rob dan penurunan tanah, sampah, akses air, kepadatan dan mobilitas penduduk, SDM, serta permukiman kumuh.
Dari sejumlah tantangan di atas, kemacetan termasuk masalah utama yang dihadapi Jakarta. Oleh sebab itu, salah satu fokus persiapan Jakarta menuju kota global adalah mengurai kemacetan.
Bagaimana penanganan kemacetan menuju Jakarta sebagai kota global?
Menuju Jakarta sebagai kota global, Pemda DKI Jakarta bekerja keras dalam menerapkan berbagai upaya mengurai kemacetan Jakarta secara optimal, yaitu melalui:
- penyediaan dan peningkatan layanan MRT dan LRT,
- peningkatan layanan BRT, termasuk revitalisasi 57 halte di tahun 2023 dan operasional bus listrik,
- integrasi layanan dan pembayaran transportasi,
- penataan stasiun tahap 4 di Stasiun Cikini, Klender, Grogol, Pasar Minggu, dan Kalibata, serta
- penerapan berbagai bentuk upaya oleh Dishub DKI Jakarta, antara lain: pemberian subsidi Transjakarta, MRT, dan LRT, pembangunan jalur sepeda, pengembangan dan peningkatan intelligent traffic system, dan evaluasi trayek angkutan di wilayah Jakarta.
Nah, warga ibu kota apakah sudah siap menjadi warga kota global? Semoga Jakarta sebagai kota global bisa menjadi kota yang semakin liveable dan berkelanjutan bagi warganya, ya! Here is to Jakarta’s bright future as a global city!












































































































