Fasilitas Transportasi Publik Jabodetabek: Sudah Cukup, atau Masih Jauh dari Kata Layak?
Setiap hari, sekitar 3,5–5 juta orang menggunakan transportasi publik di Jabodetabek, tetapi angka ini baru mewakili sekitar 21% dari total 65–70 juta perjalanan harian. Untuk memahami mengapa transportasi publik belum jadi pilihan mayoritas, Jakarta Property Institute (JPI) melakukan survei terhadap 2.495 pengguna aktif tujuh moda: Transjakarta (BRT dan Non-BRT), KRL, MRT Jakarta, LRT Jabodebek, LRT Jakarta, dan Mikrotrans.
Hasilnya menunjukkan gambaran yang berlapis. MRT Jakarta dan LRT Jakarta menerima penilaian paling positif dari sisi layanan dan fasilitas, sementara Mikrotrans mencatat ketidakpuasan tertinggi. Di hampir semua moda, komuter menyoroti hal yang sama: informasi jadwal masih kurang jelas, disusul kebutuhan peningkatan AC/kipas di KRL dan mesin top-up di MRT Jakarta. Dari sisi waktu tempuh, mayoritas perjalanan berada di kisaran 30–60 menit, tetapi komuter dari luar Jakarta, seperti Bogor, masih harus menempuh perjalanan lebih dari 120 menit dengan transit dan biaya lebih besar.
Soal konektivitas, TJ BRT, KRL, dan TJ Non-BRT muncul sebagai moda yang paling terintegrasi dengan moda lain, sedangkan LRT Jakarta berada di posisi bawah. Moda berbasis jalan seperti Transjakarta dan Mikrotrans unggul soal akses berjalan kaki dari rumah dan lokasi aktivitas, menandakan kedekatan fisik dengan warga masih menjadi keunggulan utama. Laporan ini merekomendasikan pengembangan kawasan TOD, perluasan jangkauan Mikrotrans, dan aplikasi satu pintu terintegrasi untuk jadwal, rute, dan layanan seluruh moda.
Unduh dan baca ringkasanya untuk melihat potret lengkap kondisi transportasi publik Jabodetabek
Together, let’s build a better city.












































































































